SALIB: Titik Temu Garis Amor Fati – Amor Dei*

by | Feb 28, 2020 | Artikel, Lentera

Ditulis oleh: Fabianus S. Heatubun**

 

 

“I want to learn more and more to see as beautiful

what is necessary in things;

Then I shall be one of those who make things beautiful.

“Amor fati”: let that be my love henceforth!

I do not want to wage war against what is ugly.”

 

(F. Nietzsche, The Gay Science, no. 276)

 

 

Pada mulanya sebuah peristiwa penyaliban adalah suatu peristiwa yang biasa. Waktu itu selain sudah banyak, juga sudah sangat biasa orang dihukum gantung hingga mati pada sebuah salib. Penyaliban hanyalah sebuah cara eksekusi kaum Herodian a la Romawi. Peristiwa penyaliban dianggap sebagai penyingkiran dan penyiksaan paling barbar dan konyol bagi mereka yang melanggar hukum. “Mors turpissima crucis” (salib itu cara mati yang paling kejam), kata Origenes. Josephus menyebutnya sebagai “cara mati paling buruk”. Sedangkan Cicero mencatat bahwa penyaliban itu “hukuman yang paling sadis dan menjijikkan”. Namun peristiwa itu menjadi amat menghebohkan ketika ada seseorang yang tidak sepatutnya dihukum dengan cara itu. Nama memang yang selalu menciptakan narasi. “Who”-nya yang menentukan sebuah peristiwa menjadi dramatis dan lahirnya “kisah besar”. Seorang “hero” mati itu tragedi, tapi sejumlah orang biasa mati itu hanyalah angka statistik, kata Stalin. Kini yang disalib itu bukanlah seorang yang jahat atau pemberontak seperti kebanyakan orang melaksanakan hukuman seperti itu. Sang hero ini tak bersalah; seorang yang tulus dan benar, orang yang disanjung dan dicari-cari, serta ditunggu-tunggu sebagai Raja Adil. Dia orang yang disegani karena ororitasnya dalam mengatakan sesuatu kebenaran, dan tindakannya yang menyedot simpati banyak orang. Malah orang ini dianggap sebagai Tuhan. Tuhan yang disalib?

Orang inilah yang men-transformasi makna sebuah salib dari alat penyiksa yang hina menjadi alat pembebas siksaan. Narasi besar yang dipanggungkan oleh Yang Tersalib itu adalah “pasi”, penderitaan, atau hidup yang tragis. Suatu penyimpulan dari kisah hidup-Nya sendiri; ketika Ia lahir di kandang sapi, ketika Ia menjadi seorang gelandangan, ketika lingkup pergaulan-Nya dengan orang-orang berdosa, orang pinggiran, ketika Ia ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya, dikhianati orang kepercayaannya, dijadikan musuh politik bangsa, diperlakukan sebagai kambing hitam agama dan tradisi masyarakat yang berlaku, hingga berpuncak di atas Gunung Tengkorak. Narasi pasi-Nya itu ternyata narasi pasi kita juga, sejarah hidup-Nya adalah sejarah hidup kita.

Dari sinilah kisah itu mengalir. Ada sejuta tanya yang tak terjawab; yang setiap tanya itu hanyalah melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang baru. Ada sejuta tafsir mengalir liar yang tak pernah ada muaranya. Ada sejuta cemooh sepanjang sejarah yang tak pernah membuat jera, mungkin karena sejumlah pihak terlalu berlebihan dalam memberi legitimasi yang berbau apologetik. Namun ada juga sejuta kepulan dupa yang dijadikan pemujaan untuk mengasapinya sebagai sesuatu yang keramat, sakral, tanpa harus bertanya apa alasannya. Peristiwa penyaliban “orang ini” menjadi sesuatu yang tak terkatakan. Suatu yang sublim. Ikhtiar untuk memahami menjadi sia-sia. Secara gampang lalu kita menyebutnya peristiwa ini suatu misteri. Fulget crucis misterium. Misteri salib tetap bersinar gilang gemilang. Karena misteri, maka pastilah menyimpan sesuatu makna, guna, dan arti yang selalu menantang, mengganggu pikir dan rasa kita untuk mengeksplorasi dengan tetap memberi kebebasan kepada kita untuk mendekatinya seturut selera sendiri.

Misteri penyaliban itu adalah drama tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang diusung secara misteri. Suatu drama yang sedianya hendak memberi kepuasan pada mereka yang merindukan pengetahuan dan pengalaman akan kebenaran, kebaikan, dan keindahan ilahi. Seperti kita tahu bahwa seluruh peradaban manusia berawal dan berpuncak pada pencarian jawaban misteri itu. Malangnya, jawaban itu tetap terselubung dan tak terpahamkan. Kenyataannya tidaklah dapat memuaskan naluri dasar mereka yang berpetualang mencari kebenaran, kebaikan, dan keindahan, kalau dikatakan bahwa dalam salib tersimpan jawaban setiap kerinduan dan pertanyaan mendasar dari setiap manusia. Dalam sebuah salib atau peristiwa penyaliban hanya ada kebodohan, kekonyolan, dan keburukan. Salib bukanlah tanda kebaikan yang menunjuk pada kemenangan, penaklukan, atau kejayaan dari sebuah kekuasaan, tetapi suatu tanda kehinaan, hukuman pengucilan, dan maut. Jangankan ada kearifan dan kebijaksanaan, yang ada hanyalah kedunguan. Kebenaran dijungkirbalikkan menjadi ketidaknalaran. Seperti ada sebuah grafiti salib dengan korpus berkepala keledai. Suatu cemooh bagi para pemujanya. Jangankan disebut keindahan, yang ada adalah horor yang mengerikan. Seturut nasihat Injil, selubung misteri itu hanya akan dibukakan bagi orang-orang yang sederhana bersahaja dan akan tersembunyi bagi kaum cerdik pandai, Deus absconditus, Deus revelatus! Kebaikan, kebenaran, dan keindahan tidak akan diserahkan pada mereka yang berambisi dan angkuh akan kemampuannya.

Suatu nasihat yang mengandaikan sikap dasar yang dituntut bagi mereka yang tetap penasaran. Kebersahajaan dalam berpikir, merasa, dan bernalar serta lebih-lebih bersikap pada misteri ini lebih menjanjikan. Diam sambil menatap penuh harap, merunduk sambil tafakur penuh kepasrahan sepertinya mewakili sifat-sifat orang sederhana itu. Kategorisasi kebijaksanaan Allah sepertinya sengaja ditabrakkan dengan kategorisasi pengalaman manusia. Peristiwa penyaliban yang misteri itu kemudian melahirkan misteri-misteri lain yang beranak pinak dan tetap tak terpahamkan dan semakin membingungkan serta semakin menjadi “kisah besar”. Yang tersisa hanyalah absurditas, “Credo quia absurdum,” kata Tertulianus dan “Oh….kedahsyatan yang paradoks,” kata Athanasius.

Ketika peristiwa diringkas menjadi sekedar tanda; peristiwa penyaliban yang dramatis itu disingkat menjadi tanda silang, entah berupa goresan grafiti di tembok kumuh kota atau katakombe, atau disablon pada T-shirt anak-anak muda atau di jubah seorang rahib, atau dua bilah kayu, batu, emas, tembaga, dsb., yang disilangkan lalu dipasang di dinding rumah, di menara gereja, di atas altar, di atas kuburan, di bendera tatkala berperang, atau disematkan pada sebuah tasbih, atau dikalungkan pada leher, digantungkan pada puting payu dara, dijadikan tata gerak pengudusan dan pemberkatan, dsb., dsb., tidaklah kedekatan dan penyederhaan itu menjadi jalan masuk untuk pemahaman. Tanda sederhana itu semakin menyelubungi diri dengan misteri-misterinya justru ketika tampak semakin sederhana dan sehari-hari. Penyederhaan itu tentunya wujud dari upaya pemahaman manusiawi dari realitas yang dahsyat.

Bila peristiwa penyaliban dan salib, secara ontologis, adalah esensi terdalam dari realitas hidup, pengalaman dan sejarah manusia yang tragis, maka dapat kita katakan itu adalah “Being”. Dalam arti ini sejalan dengan pikiran Heidegger yang memahami “Being” (das Sein) itu “transcendence pure and simple”. Pernyataan cukup padat ketika ia hendak menjelaskan bahwa “Being” dan transenden itu tidak dapat diterangkan dengan formulasi bahasa, tanda atau menunjuknya dengan fenomena tertentu. Being itu tidak dapat diartikuasikan dengan sebuah horizon makna. Sebegitu chiaro namun sekaligus scuro, kata orang Italia. Terang serentak gelap, sebegitu gamblang dan sangat simpelnya, namun sekaligus rumit dan tak terpahamkan. Pada kenyataannya tanda salib sesederhana apa pun selalu membeberkan kisah, selalu memaparkan peristiwa bukan hanya yang dulu pernah terjadi secara anamnetis, tapi juga kisah kita masing-masing yang tak terpahamkan namun selalu merasa memberi jawab.

Ada pengalaman keintiman yang asing dan tak dikenal. Rupanya puncak dari keintiman itu selalu ultim dan sekaligus yang ultim itu selalu menciptakan keintiman. Semakin sederhana sebuah simbol akan semakin memuat makna yang kuat, entah dalam wujud kata, benda, atau gerakan. Salib memiliki semuanya. Salib sebagai sebuah simbol memang tidak selalu mengacu pada realitas yang sebelumnya atau realitas yang sudah terjadi atau sudah ada, tetapi justru seringnya membuka realitas yang benar-benar baru, karena sebuah simbol itu lebih menciptakan daripada sekedar merepresentasikan. Simbol itu menunjuk ke depan bukan ke belakang. Simbol yang kuat selalu mampu merumuskan pengalaman yang tak terkatakan hic et nunc tanpa harus mencocok-cocokkannya. Salib menjadi cermin pengalaman dan ingatan sekaligus mimpi-mimpi serta kesadaran kolektif manusia.

Salib memang misteri karena mengungkapkan inti dasar peristiwa-peristiwa kosmis dalam wujud yang amat sederhana dan nyaris hina. Dia sungguh misteri karena paradoks antara apa yang akan diungkapkan dengan apa yang terungkap, dengan apa yang kelihatan dan yang tak kelihatan. Misteri karena dalam salib itu mengejawantah kemuliaan ilahi yang agung, tampak dalam sosok kekonyolan manusiawi yang menjijikkan. Pada waktu itulah sublimitas salib ada dalam intimitas kita. Ia merepresentasikan diri, hakikat dasar dan saripati hidup kita. Simbol yang begitu akrab dan dekat dengan eksistensi diri kita. Bila hidup kita adalah rangkaian merjan-merjan derita atau dunia tempat kita berada adalah “lacrimarum valle”, lembah yang penuh dengan air mata, maka hidup kita juga adalah goresan yang menyilang yang dipancang di Bukit Golgota. Salib adalah pathos-kita juga. Ia merepresentasikan kodrat kita yang kita sendiri tak kuasa menolak dan menyangkalnya. Salib itu menghadirati keseharian kita. Dia amat akrab  seperti seorang sahabat. Di sinilah artinya sebuah misteri. Bahwa yang intim itu dialami secara sublim dan yang sublim dialami secara intim. Seperti pengalaman mistik yang dijelaskan sebagai pengalaman fusi antara yang intim dan yang ultim.

Konon, secara kosmis, tanda salib atau dua garis silang itu pada mulanya dipakai oleh Allah untuk menjadi skema dasar yang digoreskan pada alam semesta ini; tanda yang menjadi kiblat arah mata angin dan orientasi hidup manusia. Tanda yang seolah digariskan pada telapak tangan “nasib” hidup kita. Tanda yang menjadi struktur hukum alam, titik acuan, standard, dan parameter nilai dan makna serta kebenaran hidup. Plato dalam bukunya Thimaeus, menggambarkan “roh dunia” itu merevelasikan dirinya dalam sosok tanda “Ϯ” ilahi, yang diyakini oleh St. Yustinus, secara dimbolis, tanda silang ini sebagai cikal bakal gambaran salib yang sejati yang terjadi di Golgota. Langit dan bumi serta bentangan cakrawala dari timur ke barat, utara ke selatan menjadikan suatu rekapitulasi dan titik sentral pada yang “Yang Tersalib”. Penebusan, penyelamatan, dan penciptaan kosmos baru harus dimulai di sana. Suatu tanda yang sederhana yang dapat ditangkap oleh panca indra manusiawi untuk menunjukkan suatu yang melampaui batas pikir dan rasa manusia.

Golgota menjadi pusat alam semesta (axis mundi), menjadi pusaran semua kehidupan, kebudayaan, dan peradaban. Segalanya tersedot ke sana atau bahkan memancar dari sana. Dari Golgota tangan Sang Tersalib membentang memeluk semesta, hendak merangkum kosmos dan menjadikan dirinya sebagai pusat. Tanda salib juga nampak dalam postur tubuh manusia tatkala berdiri tegak sambil berdoa, suatu sikap berkomunikasi dengan yang misteri. Salib adalah pohon kehidupan baru yang sudah dirusak oleh Adam dan Hawa. Pohon pengetahuan yang baik dan jahat atau pohon kehidupan yang ada di Firdaus adalah prefigurasi dari salib di Golgota. Sebuah ikon yang fantastis menggambarkan Golgota sebagai titik gravitasi ciptaan dan kehancuran karena persis di tempat yang sama Adam diciptakan dan dikuburkan, dan serentak pula Adam kedua wafat di tempat yang sama. “Tengkorakku akan dibaptis dengan darah-Nya….” Kata sebuah syair Ethiopia yang menggambarkan permohonan Adam pada putranya Seth.

Drama penyaliban itu digelar di atas sebuah bukit. Suatu tempat yang tinggi yang diberi nama Tempat Tengkorak. Tempat itu adalah theatron, dalam arti yang sebenarnya; sebuah ruang pertunjukan di bawah kolong langit (open air). Tempat itu adalah panggung dunia yang dipilih agar semua orang bisa memandang lebih mudah dan tidak sekedar melihat. Itulah sebabnya pementasan itu terjadi di tengah hari bolong, karena matahari dipakai sebagai lampu sorotnya agar pewahyuan itu lebih transparan dan telanjang, dan agar misteri eksistensi hidup manusia itu menjadi gamblang dan tak perlu lagi disembunyikan. Palang salib bukanlah sekedar properti yang boleh ada atau boleh tidak. Palang salib adalah theologeion; dalam tragedi Yunani mengandaikan sebuah platform pada atap skene, tempat seorang aktor memerankan tokoh sebagai dewa atau Tuhan. Yang Tersalib itu tampil nyaris telanjang, karena tidak ada kostum yang padan untuk menggambarkan “persona dramatis”. Bungkusan dan kemasan sekedar menyembunyikan yang hakikat dikritisi di sini. Pakaian dan atribut itu kepalsuan semata.

Bila drama penyaliban itu adalah sebuah Tragedi, maka peristiwa itu mendadarkan pada kita secara spektakuler mysterium horrendum dan adorandum. Sebagaimana Aristoteles memahami tragedi sebagai representasi kebenaran universal yang melibatkan rasa takut dan rasa iba. Rasa yang menciptakan katharsis atau pembersihan jiwa. Seperti lukisan yang berjudul The Fountain of Life karya Jean Bellegambe (1520) yang menggambarkan para santo dan santa serta orang berdosa berkubang dalam darah yang terpancar seperti pancuran dari luka-luka Sang Tersalib. Darah, keibaan, dan ketakutan adalah unsur-unsur yang ampuh untuk mengasah dan mempertajam rasa tanggung jawab. Suatu dorongan untuk mendekati atau dorongan untuk menjauhi. Dalam bahasa moralnya, adegan yang membimbing pada metanoia, pembalikan, pertobatan, atau rekonsiliasi.

Peristiwa penyaliban bukan sesuatu yang bersifat provokatif nan penuh dengan retorika memukau dan membujuk tapi palsu. Senyatanya aktor protagonis ini lebih banyak diam. Hanya ada tujuh pernyataan yang meluncur dari mulut sang aktor: “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”; “Sebentar lagi juga engkau akan bersama-Ku di surga”; “Ibu, itulah anakmu; anak, itulah ibumu”; “Aku haus”; “Ya Bapa ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku”; “Eloi, Eloi, lama sabachthani’; “Sudah selesai”. Kultur Yahudi sudah terlalu banyak berkata-kata dan sudah lelah mendengarkan. Sebagai guru Ia tidak menggurui lagi seperti ketika Ia berkhotbah di Galilea, di atas bukit, di pinggir pantai. Ia tidak mengajar lagi dengan kata-kata. Meski demikian Ia masih tegak dengan otoritas-Nya. Sebagai puncak ajaran-ajaran-Nya, Ia memberi contoh dengan perbuatan-Nya. Dia mengungkapkan hakikat kebenaran yang tersimpan dalam tindakan. Kebenaran ada dalam aksi. Kebenaran adalah aksi. Bukan dalam retorika atau wacana verbalistis. Pernyataan-Nya lebih sebagai wasiat yang membeberkan hakikat diri-Nya sebagai Putera Allah, sebagai manusia sejati, sebagai Putera yang memiliki kuasa untuk mengampuni, dan sebagai Allah yang menunjuk ibunda-Nya sebagai tempat manusia berlindung. Dalam dramaturgi peristiwa penyaliban itu lebih sebagai “denouement”, suatu cara dari penyelesaian kerumitan masalah (resolusi), terpaparkannya sebuah misteri, tersingkapnya teka-teki dalam klimaks cerita.

Dalam kacamata dramaturgi Brechtian, Yang Tersalib itu menampilkan gestus. Gestus sebagai totalitas potret kondisi hidup manusia dalam dunianya dan gestus Allah sebagai wujud cinta yang tanpa batas. Seperti Bertold Brecht, Yang Tersalib meng-kristal-kan realitas di atas pentas. Agar semua orang memandang. Yang Tersalib itu menginginkan orang untuk lebih memandang, berkontemplasi, bahkan berpikir, bukannya membiarkan diri hanyut dalam emosi yang dangkal. Yang Tersalib mengajak kita berpartisipasi, berbela rasa, menyatu dalam pasi jiwa dan badan-Nya, justru ketika Ia menampilkan pengalaman distansiasi (Verfremdungseffekt) untuk menyelami esensi hidup. Sebagai gestus hidup manusia yang dilakonkan oleh Yang Tersalib itu bukan untuk ditolak atau dikutuk, tetapi diterima sebagai kenyataan, mungkin disyukuri dan dirayakan. Dalam saliblah termaktub ingatan nasib manusia yang temporal dan kekal, yang fana dan baka.

Rangkaian hidup memang paradoks, penuh dengan kontradiksi, tegangan-tegangan, tragis, dan absurd serta tak ada harmoni dengan nalar kita. Hidup memang merupakan rangkaian konflik batin, pikiran, perasaan, keinginan, hasrat; konflik antarpribadi, lingkungan, dan dengan diri sendiri. Pengalaman kontras adalah faktisitas. Sebagai suatu tawaran, bagaimanapun juga tragedi adalah pintu masuk ke kenikmatan metafisis (metaphysical solace), sekaligus menjadi anugerah untuk mencicipi pengalaman keindahan surgawi. Seperti banyak pepatah yang puitis: per crucem ad lucem (dari salib menuju cahaya, dalla stalla alla stella (dari kandang menuju bintang), per aspera ad astra (melalui derita menuju bintang). Hanya melalui salib orang akan mengalami kebangkitan. “No pain, no palm; no thorns, no throne; no gall, no glory; no cross, no crown”, kata William Penn. Maut dan cinta (thanatos dan eros) bukanlah dua kekuatan yang saling bertentangan, tetapi sesuatu yang disatukan dalam keabadian. Seperti Socrates yang harus menenggak racun (pharmakon) demi cintanya akan kebaikan dan kebenaran. Pharmakon yang sekaligus bermakna sebagai racun dan penawarnya. Cinta itu sendiri adalah kerinduan akan keabadian. Dalam fusi antara cinta dan maut dia sebagai manusia menjadi makhluk ilahi.

Yang Tersalib pada saat yang sama juga menggelar gestus (Grundgestus) Allah; totalitas tindakan, kehendak, janji, pikiran, dan perasaan Allah yang tercurah pada manusia sebagai ciptaan-Nya. Gestus Allah itu kristalisasi dari cinta, karena esensi Allah adalah cinta. Lebih tepat kalau disebut “tindakan cinta”. Disebut tindakan karena, secara dramaturgis, cinta itu bukanlah ide, bukan sekedar perasaan. Perasaan dan pikiran itu tidak pernah membuat jasa. Seperti kata Yohanes, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan (ergon) dan dalam kebenaran” (1 Yoh. 3, 18). Salib memang tidak indah, tetapi menandakan tindakan atau perbuatan yang indah. Suatu justifikasi keluhuran nilai suatu perbuatan daripada sekedar omongan yang verbalistis. Dalam salib terpancar “God-walk” sebagai realisasi dari “God-talk”. Pada waktu itu “logos” menjadi “poiesis”, ide menjadi sesuatu yang konkrit dan mengejawantah dalam perbuatan. Seperti yang diyakini oleh Goethe bahwa pada mulanya adalah “aksi”, tindakan atau perbuatan, bukan “kata”.

Yang Tersalib telah melakonkan skenario yang sesuai dengan persona dramatis-nya. Lakon dengan tema “Inkarnasi Cinta”. Kita tahu bahwa efek dari tragedi selain misterium horrendum (horor yang misteri), adalah misterium adorandum (sikap penuh sembah bakti). Rasa sembah bakti erat kaitannya dengan rasa cinta, rasa kagum, rasa empati-simpati, dan rasa damai, sebagai penjabaran dari pengalaman akan keindahan (aesthetic experience). Memandang Yang Tersalib adalah memandang ketersingkapan keindahan ilahi yang luhur. Salib itu indah karena menjadi wujud tindakan paradigmatik dari cinta manusiawi-ilahi. Salib adalah berpelukannya gestus Allah dan gestus manusia. Pertemuan yang primordial antara yang insani dengan yang ilahi yang pada gilirannya melahirkan equanimitas (aequo animo) yakni kecocokan dan keseimbangan jiwa dan badan, atau bisa dikatakan momen padannya yang ilahi dengan yang insani, atau sebaliknya. Manusia yang tersergap karena memandang Yang Tersalib itu, menjadi peristiwa pertemuan antara “pusat manusia” dengan “pusat Allah”.  Di sinilah arti terdalam dari Via dolorosa, Imitatio Christi, dan alter Christi dan makna kata “partisipasi” memperoleh pengertiannya.

Seperti Paulus katakan, “kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Kor 3:18). Dengan memandang kemuliaan Tuhan kita jadi bisa merefleksikannya dalam diri kita sendiri; kemuliaan Allah menjadi kemuliaanku juga, meski dalam sosok deritanya yang menjadi deritaku juga. Sebagaimana dipahami oleh Plotinos bahwa komunikasi baru bisa disebut estetis jika subjek dan objek itu menghasilkan kesatupaduan dengan yang ilahi. Karena keindahan adalah radiasi yang ilahi. Sabda menjadi daging (inkarnasi) mencapai titik kulminasinya pada peristiwa salib. Di sanalah pathos-ku menjadi ethos Allah. Karena pada kenyataannya penyembahan itu baru bisa fitri bila dalam diri kita tergores kesadaran akan derita, kematian, dan perlakuan tidak adil. Kesetaraan isi pada peristiwa dan tanda salib dengan pengalaman dan kenangan hidup kita yang seperti itulah sesembahan mempunyai arti dan makna. Memang dalam kultur “amnesia” tidaklah mudah membuat anamnesis, kata Don E. Saliers. Kultur yang telah tercerabut dari akar dan yang tidak memiliki masa lalu akan gagap saat memandang dengan kenangan pada salib sebagai potret hidupnya. Apalagi pathos itu harus didendangkan dalam upacara penyembahan. Bila itu diungkapkan dengan nada, kata-kata, dan gerak akan terasa asing dan kehilangan efikasinya.

Sosok salib memang tidak seindah sebagaimana manusia memiliki parameter akan keindahan. Salib pada kenyataannya memang jelek dan menjijikkan, mengerikan, dan menakutkan. Jelas bahwa itu sangat berseberangan dengan pemahaman keindahan sebagai sesuatu yang menyenangkan bila dilihat (pulchra dicuntur quae visa placent), apalagi kalau keindahan sekedar dipahami secara dekoratif dan kelangengan indrawi. Namun, titik persoalannya sosok seperti itulah justru dipakai oleh Tuhan untuk mewahyukan tindakan cinta ilahi-Nya pada manusia. Ungkapan cinta dalam kewadakannya. Ungkapan cinta ilahi yang mengambil sosok salib itu bahkan diyakini sebagai puncak keindahan. Seperti pepatah Perancis mengatakan, “Il faut souffrir pour tre beau” (Untuk menjadi indah ia harus menderita). Apakah keindahan, cinta, dan kesucian itu hanyalah sisi lain dari kurban dan penderitaan? Lalu apa artinya keindahan?

Keindahan di sini diartikan sebagai saat mengental dan mengkristalnya cinta dan kesucian. Ketika cinta dan kesucian mencapai totalitas dan infinitasnya, pada gilirannya yang terpajang adalah kemuliaan (doxa). Dalam arti inilah kemuliaan dipahami sebagai puncak dari keindahan. Seperti Thomas Aquinas memahami keindahan sebagai bonum honsetas. Yakni semacam keindahan spiritual yang menyiratkan kefitrian, kejujuran, keterusterangan, dan kebaikan itu sendiri. Cinta ilahi itu pada hakikatnya adalah kemuliaan Tuhan itu sendiri yakni kemuliaan dari penyerahan diri Yang Ilahi yang ditampilkan dalam sosok salib (kenosis) di hadapan manusia. Keindahan adalah cinta Bapa dan Putera yang tak terkatakan kepada manusia yang penuh dosa. Seperti yang ditulis oleh Yohanes, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Dalam hal inilah cara memandang Yang Tersalib di Golgota mesti sepadan denegan cara memandang Dia di Tabor. Dua peristiwa dengan sosok kemasan yang berbeda, namun hendak menampilkan hakikat yang sama. Dua peristiwa yang menggelar struktur dasar manusiawi untuk bersujud dan menyembah. Tabor menampilkan kekaguman (dalam bahasa Otto, fascinosum) sedangkan Golgota menampilkan kegentaran (tremendum) yang keduanya merupakan “sense of mystery”; rasa misteri sebagai atmosfir yang kita hirup dan kita hembuskan. Atmosfir yang menciptakan kepasrahan dan keterbukaan kepada yang misteri. Dalam arti ini, kita tidak menciptakan yang misteri, kita hanya menerimanya. Yang misteri itu diwahyukan. Pada waktu itu kita menyembahnya dalam roh dan kebenaran. Penyembahan –dalam artian sebuah doa— hanyalah konsekuensi logis dari efek domino yang dimulai dari keindahan, yang melahirkan kekaguman, pujian, dan kegentaran. Menangkap kemuliaan ilahi berarti menyediakan ruang batin untuk menyembahnya. Spiritualitas dan religiositas seseorang tidak jauh dan sangat ditentukan oleh sensibilitasnya dalam menangkap keindahan.

Kita tahu bahwa secara biblis salib itu, baik sebagai peristiwa maupun sebagai tanda yang simbolis, adalah wahyu Allah yang paling tegas dan gamblang. Paling tidak, kehendak, cinta, dan kebijaksanaan serta kebenaran ilahi ditegaskan di sana. Suatu imperasi. Namun dianggap menjadi batu sandungan bagi kaum estetikus ketika meyakini pewahyuan itu mestinya mengambil sosok yang serba indah. Bahwa keindahan adalah jalan lurus untuk sampai pada pengetahuan sejati tentang kehendak Allah, atau lorong yang terang benderang untuk bertemu dan mengalami kemuliaan-Nya. Karena keindahan itu adalah salah satu atribut Allah. Seperti sebuah ikon yang mengarahkan dan memberi petunjuk pada yang sebenarnya. Permasalahannya, mengapa mesti mengambil sosok salib seperti itu yang justru kutub lain dari keindahan? Bukankah kelaknatan, keburukan dan kejelekan adalah revelasi dari Si Jahat, kegelapan, atau Iblis? Bila seorang Van der Leeuw melihat indahnya tarian sebagai geliat Tuhan; atau drama sebagai permainan sakral antara manusia dan Tuhan; atau keindahan arsitektur sebagai revelasi ciptaan Tuhan yang sempurna; dan atau indahnya musik sebagai gema kemuliaan-Nya yang kekal. Pendeknya keindahan adalah representasi dari eksistensi Tuhan. Tapi salib hendak mengatakan apa? “Can anything that has no shape appear in a shape?”, tulis Dostoievsky dalam The Idiot.

Dalam hal inilah mata iman kita ditantang dan dipertaruhkan untuk memenadang dan mengamini Dia Yang Tersalib sebagai pewahyuan. Memandang Yang Tersalib haruslah menyalibkan pikir dan rasa kita sendiri sebelumnya. Untuk menerima Yang Tersalib sebagai sosok dari keindahan transendental kita mesti menelanjangi kategori-kategori manusiawi, karena pada kenyataannya mata iman kita memandang sesuatu yang sub contraria specie. “Beauty is mysterious as well as terrible. God and devil are fighting there, and the battlefield is the heart of man”, kata Dostoievsky. Bila dalam salib ada keindahan –sebagai representasi kemuliaan dan cinta ilahi— tapi keindahan yang paradoksal. Dalam hal ini sejajar dengan Dostoievsky yang melihat keindahan sebagai suatu yang misterius dan sekaligus mengerikan, pengalaman surgawi dan pengalaman nerakawi campur aduk di sana; di dalam hati kita masing-masing. Sependapat dengan Hume yang mengatakan bahwa “Beauty is no quality in things themselves. It exists merely in the mind which contemplates them”. Sosok salib yang sangat buruk ketika kita hanya melihat dan menatap, namun menjadi sangat indah ketika kita pandang dengan mata iman. Istilah lain dari “kontemplasi”. Dalam kontemplasi, kategorisasi dan kriteria pupus dari pikir dan rasa kita. Itulah pintu masuk pada pengalaman sublim, pengalaman yang menghantar kita pada wilayah “noumenon” dalam bahasa Kantian. Salib dan sublimitas itu erat hubungannya dengan realitas yang menggetarkan, dan memukau jiwa yang melahirkan rasa gamang yang subtil dan kompleks. Suatu pemicu yang menyadarkan bahwa hidup itu tidak hanya bergumul dengan kekinian yang banal dan sementara. Bahwa yang misteri itu mempunyai cara yang paling telak untuk menyapa, mengingatkan kita yang berbangga diri dengan pikir dan ambisi. Telak tetapi tidak merampas kehendak bebas kita.

Menyembah dan mencintai sesuatu karena ia indah, itu biasa. Tetapi menyembah dan mencintai meski ia buruk rupa dan buruk wujud pastilah iman yang memungkinkannya. “Keindahan itu berawal dari ketakutan”, kata Rilke. Salib sebagai sebuah deklarasi, hendak mengumandangkan keindahan ilahi yang merangkul erat-erat baik kematian maupun kehidupan, baik ketakutan maupun kegembiraan, baik yang buruk maupun yang indah. “There is no beauty without terror,” kata Hegel. Mengetahui secara utuh tentang arti keburukan menyarankan pengetahuan dan pemahaman akan keindahan.

Sebagai simulai, rupanya salib hendak mengungkapkan puncak dari kemauan Allah pada manusia yang sekaligus merupakan pusat dari nasihat Injil.  Penyangkalan diri dan cinta menjadi “pusaka” hidup seorang yang memilih sesembahannya pada Yang Tersalib. Penyangkalan diri dan cinta hanya demi yang indah dianggap belum merupakan radikalisasi. Penyangkalan diri seperti itu biasa dan sangat manusiawi dan terlalu duniawi. Yang Tersalib tidak mati demi keindahan. Mati demi keindahan itu mudah sekali. Tetapi mati demi sesuatu yang mengenaskan dan demi sesuatu yang paling tidak diingininya, di situlah tempatnya kebajikan. Salib mengajarkan cinta dan penyangkalan diri seperti itu, bahwa cinta itu sekuat maut. Dalam salib, cinta ditunjukkan bukan hanya sekedar wujud dari keadilan tetapi pertama-tama pengampunan. Salib menjadi tempat cinta yang disalib. Di sinilah letak keindahannya, sisi lain dari kemuliaan. Cinta itu, menurut Miguel de Unamuno dalam bukunya The Tragic sense of Life, “the most tragic thing in the world and in life is love. Love is the child of illussion and the present of disillusion; love is consolation in desolation; it is the sole medicine against death, for it is deaths’s brother”. Seperti ada kisah seorang yang bertanya pada Yesus, “Guru sebesar apakah cinta-Mu padaku?” Yesus menjawab, “Sekian”, sambil membentangkan tangan-Nya, lalu Ia wafat. Gambaran cinta yang tak ada batas secara ruang ketika ia membentangkan tangannya, tak ada batas secara waktu, ketika Ia terkulai sambil menghembuskan nafas-Nya yang terakhir. (***)

 

 

 

*Dipetik dari buku “Salib:  Simbol Teror, Teror Simbol (Kajian Multidimensi)”, Ign. Bambang Sugiharto dan C. Harimanto Suryanugraha (ed), Bandung: SangKris, 2003

 

*Fabianus Sebastian Heatubun, Drs., SLL, pastor dari Keuskupan Bogor ini adalah pengajar teologi, liturgi, dan filsafat pada program sarjana dan pasca sarjana di Fakultas Filsafat Unpar. Menyelesaikan studi licentiatnya di Universitas Anselmianum (PIL Sant’Anselmo, Roma). Aktif sebagai anggota Komisi Liturgi dan Komisi Teologi, Konferensi Waligereja Indonesia.

 

Lainnya

Sejarah Kalender Masehi: Dari Gereja untuk Dunia

Kalender adalah sistem penyusunan yang berfungsi untuk membagi aliran waktu yang berkelanjutan menjadi periode terukur seperti hari, minggu, bulan, dan tahun, di mana penentuan periode ini umumnya didasarkan pada siklus astronomi seperti revolusi Bumi mengelilingi...

Kedatangan Relikui Santo Ignatius Loyola di Semplak

Relikui diambil dari bahasa Latin “reliquiae” yang berarti peninggalan. Jadi, relikui adalah benda-benda peninggalan dari orang yang dianggap kudus. Sejak pembaptisan tubuh kita menjadi Bait Allah, yang berarti tempat dimana Allah berdiam (bdk. 1 Korintus 3:16). Dalam...

Menyatukan Iman Kristen Indonesia: Perjalanan PGI dan KWI

Di sebuah perjalanan panjang penyebaran Injil di Indonesia, terdapat dua organisasi besar yang berperan sebagai wadah pembinaan, pengajaran dan penyebaran Injil yang bertujuan membina jemaat-jemaat Kristen di Indonesia. Kedua organisasi ini selalu bergandeng tangan...

Cinta dalam Pandangan Gereja Katolik

Cinta, bagai cahaya lilin yang menerangi kehidupan. Dalam ajaran Gereja Katolik, cinta bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan perjalanan spiritual yang mendalam. Cinta adalah kompas yang menuntun kita menuju kebahagiaan sejati, sebuah pelabuhan damai di tengah badai...

Kisah Martir dari Roma, Santo Valentinus: Awal Mula Valentine Day

Valentine Day atau Hari Kasih Sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari, biasanya seseorang menukarkan hadiah seperti kado, coklat, ataupun sekadar ucapan. Namun, pernahkah mendengar kisah Santo Valentinus?   Identitas & Riwayatnya Valentinus yang...

Yesus Orang Nazaret*

oleh: Aris Sukarto       Pendahuluan   Injil Markus memulai pemberitaannya dengan pernyataan: “Inilah permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Penekanan Yesus sebagai Anak Allah tampak di sini. Namun, ini bukan satu-satunya penekanan...

Kampung Asal Yesus

oleh: Michael Dhadack Pambrastho     0. PENGANTAR   Boleh jadi Yesus Kristus adalah pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah. Ia lahir, hidup, dan wafat di Palestina, daerah pinggiran Kekaisaran Roma. Ia tampil di depan umum hanya selama 3 tahun...

Pesona Kata 20230603

  Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk 2: 27-28)   ***   Perpecahan dalam Gereja? Pembaruan-pembaruan Konsili Vatikan, apa lagi...

Pesona Kata 20230531

  Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat. 18:18).   ***   Reformasi Gereja. Konsili Vatikan II sebenarnya mau mendorong reformasi...

Pesona Kata 20230528

    Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada...