IMAN

by | Dec 10, 2019 | Artikel, Signal

oleh: Michael Dhadack Pambrastho

 

 

ADA banyak alasan kenapa seseorang meng”iman”i Yesus. Pertama, bisa karena keterlanjuran. Maksudnya di sini, orang ini mungkin lahir dari pasangan Kristiani dan dibaptis sejak bayi lalu selanjutnya hidup di tengah keluarga atau lingkungan Kristiani. Kedua, mungkin karena sebab pernikahan. Mereka ini menjadi Kristiani karena ikut pasangan (suami/istri). Ketiga, mungkin karena tertarik dengan kehidupan Gereja (bisa figur-figur di dalamnya, ajaran-ajaran yang dikemukakannya atau karya-karya yang dilaksanakannya). Keempat, mungkin karena telah mendapat anugerah epifanis: “perjumpaan langsung” dengan Yesus.

Dari empat macam situasi latar tersebut, barangkali, kita dapat menyebut tentang adanya 3 macam kategori iman yang mungkin tumbuh dalam diri seseorang: iman warisan, iman intelektualistis dan iman epifanis.

Dengan “iman warisan”, yang dimaksudkan adalah: jika seseorang menanggapi pengalaman imannya dengan hanya lebih cenderung pada “mengalaminya” dan/atau “menjalaninya” saja tanpa terlampau sering “merefleksikan” berbagai hal yang menjadi bagian dari pengalamannya itu.

Dengan “iman intelektualistis”, yang dimaksudkan adalah ketika seseorang lebih mengandalkan atau menitikberatkan diri pada aspek pengetahuan dalam mengarungi kehidupan imannya; daya yang dikedepankan adalah melulu “kekuatan otak”; keterlibatan relasional dalam dimensi-dimensi yang lebih “mendalam”, dan mungkin “tersembunyi”,  kurang diselami dan dijalani.

Sedang dengan “iman epifanis”, yang dimaksudkan adalah ketika seseorang menghidupi imannya sebagai sebuah hubungan relasional-personal (baca: hubungan pribadi dengan yang diimaninya itu) yang intim, mencerahkan dan sungguh menggerakkan.

Dalam kenyataannya, masing-masing “jenis” iman tersebut memiliki kemungkinan corak perkembangan dan dampaknya masing-masing bagi hidup seseorang. Seperti apakah corak perkembangannya dan bagaimanakah dampaknya dalam hidup seseorang itu? Dalam arti tertentu, barangkali, kita dapat membandingkan kisah jenis-jenis iman itu dengan kisah macam-macam nasib “benih” yang disemai oleh “seorang penabur” sebagaimana dapat kita jumpai dalam perikop “Perumpamaan tentang seorang penabur” (Matius 13: 1-23; Markus 4: 1-20; Lukas 8: 4-15).

Dalam perikop tersebut disingkapkan:

 

“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Matius 13: 1-9)

 

Sementara dalam bagian lain dari perikop tersebut diungkapkan:

 

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Matius 13: 18-23)

 

***

 

Dalam buku “Pesan Tuhan dalam Perumpamaan” (Yogyakarta: Kanisius, 2015), Y.M. Seto Marsunu membawa kita lebih dekat lagi kepada pengertian dari perumpamaan tentang penabur itu. Y.M. Seto Marsunu mengarahkan penjelasannya pada teks Markus 4: 3-9, 14-20. Dalam bagian yang menjelaskan tentang “makna” dari perumpamaan tersebut Y.M. Seto Marsunu menyingkapkan:

 

Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan berkata, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Setiap orang seharusnya mendengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Yesus. Dalam perumpamaan ini, sesungguhnya Yesus tidak sedang mengajar ilmu pertanian, tetapi mengajar sesuatu yang lain, yang melampaui ilmu pertanian itu. Ia menginginkan agar para pendengar-Nya mengerti makna perumpamaan yang baru saja disampaikan-Nya. Waktu Yesus sedang sendirian, para pengikut dan ke-12 murid-Nya menanyakan arti perumpamaan itu kepada-Nya, dan Yesus pun menjelaskannya.

[14] Benih yang ditaburkan itu adalah Firman; tetapi siapa penaburnya? Apakah ia itu Allah atau Yesus yang menaburkan benih Firman bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mrk. 1:15; 2:2; 4:33) atau para rasul yang menabur Firman Injil (Kis. 6:4; Kol. 1:5)? Dengan tidak memberi penjelasan mengenai hal ini, Yesus membuat perumpamaan ini dapat diterapkan dalam berbagai situasi di mana Firman Allah diwartakan. Penjelasan Yesus terutama diarahkan pada berbagai jenis tanah, tempat jatuhnya benih-benih Firman, yang melambangkan berbagai tanggapan terhadap Firman yang diwartakan.

 

[15] a. Benih yang jatuh di pinggir jalan: Mereka adalah pendengar yang tidak pernah menaruh perhatian pada Firman Allah sehingga Firman itu sama sekali tidak diresapinya. Kemudian Iblis datang dan mengambil FIrman itu seperti burung yang mematuk benih yang jatuh di pinggir jalan. Tetapi, bagaimana Iblis dapat mengambil Firman itu? Yang salah bukanlah Firman itu atau tanahnya, melainkan pengaruh dari luar yang mengambil benih itu. Memang tidak perlu dibayangkan Iblis yang datang dari neraka mengambil Firman itu dari hati manusia. Tetapi, ada kekuatan di luar yang membuat orang mengabaikan Firman yang didengarkannya. Akibatnya, Firman itu tidak dapat terlaksana di dalam dirinya.

 

[16-17] b. Benih yang jatuh di tanah berbatu-batu: Mereka adalah para pendengar Firman yang dengan penuh sukacita menyambut Firman yang disampaikan kepada mereka sungguh-sungguh sebagai kabar gembira. Tetapi, bila terjadi penindasan atau penganiayaan karena Firman itu, mereka dengan mudah meninggalkannya. Ia tidak sungguh-sungguh percaya pada Firman itu, sehingga sedikit kesulitan saja sudah cukup menjadi alasan baginya untuk tidak percaya lagi.

 

[18-19] c. Benih yang jatuh di tengah semak duri: Orang-orang ini mendengarkan Firman Allah, tetapi seolah-olah Firman itu tidak cukup memberi pengharapan dan tidak cukup bernilai baginya. Kekhawatiran dunia dengan mudah membuatnya mengabaikan Firman itu dan bagi mereka hal-hal duniawi lebih bernilai sehingga dengan mudah mereka mengabaikan Firman itu. Akibatnya, sekalipun mereka telah mendengarkannya, Firman itu tidak ada pengaruhnya bagi mereka.

 

[20] d. Benih yang jatuh di tanah subur: Yesus tidak memberi banyak penjelasan mengenai benih ini. Yesus rupanya menaruh perhatian lebih pada kegagalan daripada keberhasilan pewartaan Firman. Usaha untuk menaburkan Firman bukanlah hal yang sia-sia, karena tetap ada benih yang jatuh di tanah subur. Yang dilambangkan dengan benih ini adalah orang-orang yang mendengarkan Firman dan menyambut Firman yang diwartakan kepada mereka dan menghasilkan buah yang berlimpah. Firman Allah tidak akan kembali dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya (Yes. 55: 8-11).

 

Apa yang dapat disebut sebagai buah Firman? Orang menjadi tanah subur bagi Firman bila ia mendengarkan Firman itu, memercayainya, lalu membiarkan Firman itu menggerakkan seluruh dirinya. Dengan cara demikian, ia memberi kesempatan kepada Firman itu memengaruhi seluruh kehidupannya sehingga sikap hidup dan perilakunya mewujudkan Firman Allah. Pelayanan Yesus sendiri juga mengalami kegagalan dan keberhasilan. Banyak orang menolak Firman yang disampaikan-Nya sehingga tidak menghasilkan buah. Ada yang menuduh Yesus menghujat Allah (Mrk. 2:7), gila (Mrk. 3:21), dan menjadi tangan Setan (Mrk. 3:22). Bahkan, para pemuka Yahudi menginginkan kematian-Nya (Mrk. 3:6). Walaupun demikian, semakin lama semakin banyak orang mendengarkan Firman Yesus dan percaya kepada-Nya (Mrk. 1: 32-33; 2:2, 13; 3: 7-10, 20; 4:1). (Y.M. Seto Marsunu, “Pesan Tuhan dalam Perumpamaan”, Yogyakarta: Kanisius, 2015, h. 43-46)

 

***

 

Dalam arti umum iman berarti menerima suatu kebenaran tertentu dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran ini. Bisa terjadi, ini hanya berhenti pada soal “pengetahuan”, soal “otak” (pen.). Tetapi, iman yang sejati juga menyangkut sikap hati manusia: orang yang memiliki iman yang sejati mempercayakan diri kepada Allah (baca: Yesus, pen.) yang diimaninya, sepenuhnya mengandalkan Dia, dan hidup menurut jalan yang dikehendaki-Nya. Dengan kata lain, orang yang sungguh beriman menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah (baca: Yesus, pen.) yang diimaninya. (Y.M. Seto Marsunu, Permata Iman Katolik, Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia, 2016)

Pertanyaan yang muncul kemudian: Allah (Yesus, pen.) yang bagaimana yang diimani, yang kepada-Nya orang menyerahkan dirinya? Orang yang memiliki iman yang benar menyerahkan diri pada Allah yang sejati, yakni Allah sebagaimana adanya. Untuk dapat sungguh-sungguh beriman, orang memerlukan dua hal:

 

  1. Mengetahui siapakah Allah yang sesungguhnya (iman yang benar)
  2. Menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah dan mengandalkan-Nya (iman sejati)

 

Bisa jadi orang hanya memiliki salah satu dari keduanya. Ia mengetahui siapa Allah sesungguhnya, tetapi tidak mengandalkan-Nya. Atau sebaliknya, ia sungguh-sungguh mengandalkan Allah, tetapi tidak mengenal siapa Allah yang diimaninya. Misalnya, ada orang yang menganggap Allah sebagai sumber rejeki belaka, penguasa yang memberi ganjaran dan hukuman, atau penguasa yang memerlukan persembahan manusia. Akibatnya, orang itu memberikan sesuatu kepada Allah supaya Ia memberikan kepadanya jauh lebih banyak daripada yang sudah diberikannya. Untuk dapat menyerahkan diri kepada Allah dan mengandalkan Dia, orang harus mengetahui siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya. Lalu ia membina relasi dengan Allah dan hidup menurut kehendak-Nya.

Umat Kristiani yakin bahwa mereka memiliki iman yang sejati dan benar. Mereka sepenuhnya mempercayakan diri pada Allah sebagaimana Ia berkenan menyatakan diri dan melakukan kehendak-Nya. Ia menyatakan diri melalui ciptaan-Nya, melalui sejarah umat Israel, dan terutama melalui Yesus Kristus. Allah yang demikian diperkenalkan dalam Kitab Suci Kristiani. Dengan kata lain, di dalam Kitab Suci orang Kristiani dapat berjumpa dengan Allah yang seharusnya dipercaya dan diandalkan oleh manusia. Selain itu, orang dapat belajar bagaimana harus menyerahkan diri kepada Allah yang sejati dan mengandalkan-Nya. Orang yang menyatakan diri Kristiani selayaknya membaca Kitab Sucinya. Hanya dengan cara demikian, ia dapat berjumpa dengan Allah yang diimaninya dan dapat mengenal-Nya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai ia tidak mengenal Allah yang dipercayainya dan justru mengimani Allah “ciptaannya” sendiri, yakni Allah menurut angan-angannya sendiri.

 

 

TIGA UNSUR IMAN

 

Orang yang memiliki iman mempercayakan diri kepada Allah yang diimaninya dan sepenuhnya mengandalkan Pribadi yang diimaninya itu. Semua ini harus dilakukan secara bebas, tanpa dipaksa, karena “pada hakikatnya kita menyatakan iman kita dengan kehendak yang bebas” (KGK 158; bdk. KHK 748:2). Untuk dapat menyerahkan diri kepada Allah, mengandalkan Dia, menjalani kehidupan sesuai dengan iman akan Kristus, kita perlu memahami kebenaran tentang Allah yang telah menyatakan diri dalam Kristus. Pemahaman ini akan membantu kita untuk benar-benar percaya kepada-Nya. Kepercayaan ini akan mendorong kita untuk membina relasi dengan Allah dan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. Berdasarkan pemahaman ini, kita melihat tiga hal penting yang harus dimiliki dalam kehidupan iman, yaitu pengetahuan, ibadah, dan perbuatan.

 

Pengetahuan

 

Kita hanya mau mempercayakan diri pada pribadi yang sudah kita kenal. Aneh bila orang mempercayakan diri kepada pribadi yang tidak dikenalnya. Hal ini juga berlaku dalam relasi manusia dengan Allah. Kalau mau percaya kepada Allah, orang perlu memahami siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya. Orang yang benar-benar percaya kepada Allah akan berusaha untuk mengenal Allah dengan lebih baik. Selain itu, ia akan berusaha untuk mengerti dengan lebih baik apa yang telah dinyatakan-Nya (KGK 158). Allah telah menyatakan diri melalui ciptaan-Nya, melalui sejarah umat Israel, dan terutama melalui Yesus Kristus. Para pengikut Kristus telah mencatat pernyataan diri Allah itu dalam Kitab Suci. Dengan demikian, sumber utama untuk mengenal Allah yang menyatakan diri dalam diri Kristus adalah Kitab Suci. Kalau kita mau mengenal Yesus dengan lebih sungguh-sungguh, tidak ada cara lain selain membaca Kitab Suci. Semakin banyak kita membaca dan merenungkan isi Kitab Suci, semakin penuh pula pengenalan kita akan Kristus.

 

Ibadah

 

Setelah mengenal Allah dan kehendak-Nya, orang yang percaya kepada Allah itu membina relasi dengan Dia. Ia menjalin komunikasi dengan Allah: ia hadir di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang dikehendaki-Nya, dan menyatakan isi hatinya. Telah dikatakan bahwa Umat Kristiani sepenuhnya mempercayakan diri pada Allah sebagaimana Ia berkenan menyatakan diri dan semua itu telah ditulis dalam Kitab Suci. Dengan demikian, di dalam Kitab Suci orang Kristiani dapat berjumpa dengan Allah yang seharusnya dipercaya dan diandalkan oleh manusia. Selain itu, orang dapat belajar bagaimana harus menyerahkan diri kepada Allah yang sejati dan mengandalkan-Nya. Orang yang menyatakan diri Kristiani selayaknya membaca Kitab Sucinya. Hanya dengan cara demikian, ia dapat berjumpa dengan Allah yang diimaninya den dapat mengenal-Nya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai ia tidak mengenal Allah yang dipercayainya dan justru mengimani Allah “ciptaannya” sendiri, yakni Allah yang dipikirkan menurut angan-angannya sendiri.

 

Perbuatan

 

Orang beriman telah mengenal Allah dan mengetahui kehendak-Nya. Tidak cukup orang percaya bahwa hanya ada satu Allah. Itu memang baik tetapi tidak cukup karena dalam hal ini percaya hanya berarti menerima secara intelektual kenyataan-kenyataan tertentu tetapi penerimaan itu sama sekali tidak ada nilainya untuk keselamatan kekal. Orang beriman menerima kebenaran tentang Allah dan menyesuaikan hidupnya dengan kebenaran itu. Karena percaya kepada Allah, orang beriman bersedia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ia menyadari bahwa semua yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan oleh orang beriman itu akan mengantar dia pada kebahagiaan abadi yang dijanjikan-Nya. Demikianlah, orang beriman mewujudkan imannya itu dalam perbuatan yang nyata dan tanpa perbuatan yang nyata iman itu mati (Yak. 2: 14-26). Iman yang merupakan aktivitas mental dan batin tidak dapat ditunjukkan kecuali bila iman itu mendorong orang untuk melakukan kebaikan dalam perbuatan. (Y.M. Seto Marsunu, “Permata Iman Katolik”, Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia, 2016, h. 7-11)

 

***

 

Orang yang memeluk “Iman Warisan” biasanya cenderung lebih mengutamakan dimensi “Ibadah” dan, sampai batas tertentu, melakukan juga “Perbuatan” baik. Tetapi yang khas dari orang-orang semacam ini adalah bahwa mereka biasanya amat kurang menghargai pentingnya aspek “Pengetahuan” dalam kehidupan iman mereka. Barangkali hubungan antara orang ini dengan iman yang diusungnya adalah bagai “benih yang jatuh di pinggir jalan”. Atau, mungkin juga, bagai “benih yang jatuh di tengah semak duri”.

Di lain pihak, orang yang mengusung “Iman Intelektualistis” biasanya cenderung menyepelekan dimensi “Ibadah” dan “Perbuatan” dalam keseluruhan kehidupan iman mereka. Barangkali orang dengan jenis iman macam ini dapat digambarkan sebagai “benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu”.

Sementara orang yang menghidupi “Iman Epifanis” adalah mereka yang menghayati pentingnya pelaksanaan ketiga unsur dalam iman tersebut sekaligus: “Pengetahuan”, “Ibadah” dan “Perbuatan”. Merekalah yang dapat digambarkan sebagai “benih yang jatuh di tanah yang subur”. Tampaknya, terutama dari merekalah dapat diharapkan bahwa “benih” itu, yakni Firman Allah, dapat menghasilkan “buah yang berlimpah-limpah”: “ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat”.

 

 

Semplak, Medio Desember 2019

 

 

 

SUMBER RUJUKAN

 

  1. Marsunu, Y.M. Seto, Pesan Tuhan dalam Perumpamaan, Yogyakarta: Kanisius, 2015
  2. Marsunu, Y.M. Seto, Permata Iman Katolik, Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia, 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lainnya

Sejarah Kalender Masehi: Dari Gereja untuk Dunia

Kalender adalah sistem penyusunan yang berfungsi untuk membagi aliran waktu yang berkelanjutan menjadi periode terukur seperti hari, minggu, bulan, dan tahun, di mana penentuan periode ini umumnya didasarkan pada siklus astronomi seperti revolusi Bumi mengelilingi...

Kedatangan Relikui Santo Ignatius Loyola di Semplak

Relikui diambil dari bahasa Latin “reliquiae” yang berarti peninggalan. Jadi, relikui adalah benda-benda peninggalan dari orang yang dianggap kudus. Sejak pembaptisan tubuh kita menjadi Bait Allah, yang berarti tempat dimana Allah berdiam (bdk. 1 Korintus 3:16). Dalam...

Menyatukan Iman Kristen Indonesia: Perjalanan PGI dan KWI

Di sebuah perjalanan panjang penyebaran Injil di Indonesia, terdapat dua organisasi besar yang berperan sebagai wadah pembinaan, pengajaran dan penyebaran Injil yang bertujuan membina jemaat-jemaat Kristen di Indonesia. Kedua organisasi ini selalu bergandeng tangan...

Cinta dalam Pandangan Gereja Katolik

Cinta, bagai cahaya lilin yang menerangi kehidupan. Dalam ajaran Gereja Katolik, cinta bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan perjalanan spiritual yang mendalam. Cinta adalah kompas yang menuntun kita menuju kebahagiaan sejati, sebuah pelabuhan damai di tengah badai...

Kisah Martir dari Roma, Santo Valentinus: Awal Mula Valentine Day

Valentine Day atau Hari Kasih Sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari, biasanya seseorang menukarkan hadiah seperti kado, coklat, ataupun sekadar ucapan. Namun, pernahkah mendengar kisah Santo Valentinus?   Identitas & Riwayatnya Valentinus yang...

Yesus Orang Nazaret*

oleh: Aris Sukarto       Pendahuluan   Injil Markus memulai pemberitaannya dengan pernyataan: “Inilah permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Penekanan Yesus sebagai Anak Allah tampak di sini. Namun, ini bukan satu-satunya penekanan...

Kampung Asal Yesus

oleh: Michael Dhadack Pambrastho     0. PENGANTAR   Boleh jadi Yesus Kristus adalah pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah. Ia lahir, hidup, dan wafat di Palestina, daerah pinggiran Kekaisaran Roma. Ia tampil di depan umum hanya selama 3 tahun...

Pesona Kata 20230603

  Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk 2: 27-28)   ***   Perpecahan dalam Gereja? Pembaruan-pembaruan Konsili Vatikan, apa lagi...

Pesona Kata 20230531

  Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat. 18:18).   ***   Reformasi Gereja. Konsili Vatikan II sebenarnya mau mendorong reformasi...

Pesona Kata 20230528

    Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada...