oleh: Michael Dhadack Pambrastho
DUNIA, nyatanya, bisa sangat mengecoh. Dan egosentrisme dapat mewujud dalam banyak wajah. Juga, jika kita bicara tentang masalah warna kehidupan menggereja. Kelompok umat yang satu merasa puas dengan mengejar corak “kesalehan pribadi”. Doa, derma, puasa dan membaca Kitab Suci dijalankan dengan ketat namun enggan bahkan sebisa mungkin menolak terlibat dalam masalah dan keprihatinan-keprihatinan krusial dunia. Yang lain bermain “tebang-pilih”, mengejar ketepatan pemenuhan perintah-perintah Allah, Injil dan Gereja sepanjang tidak membahayakan nyawa atau kedudukan atau harta miliknya. Yang lain lagi getol melakukan pekerjaan-pekerjaan suci dan terhormat dengan mengklaim bahwa semuanya itu untuk Tuhan padahal yang sebenarnya dikejarnya adalah “kemegahan pribadi”.
Tetapi, sebetulnya, apa yang diminta Yesus sendiri kepada para pengikut-Nya yang sejati mengenai apa yang harus mereka lakukan? “Sangkuli”: Sangkal diri, Pikul Salib, Ikuti Yesus.
Santo Lukas mengabadikan apa yang dikehendaki Yesus untuk dilakukan oleh para pengikut-Nya dalam teks berikut ini: “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 9: 23-24)
Dalam hal ini, bagaimana persisnya kita mesti menafsirkan kehendak Yesus itu? Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “menyangkal diri”, “memikul Salib” dan “mengikuti Yesus”?
***
Penafsiran dan penjelasan Stefan Leks atas teks Lukas 9: 23-24 sebagaimana tercatat dalam buku “Tafsir Injil Lukas” (2003) menarik untuk disimak. Berikut ini disampaikan paparannya.
Kata-Nya kepada mereka semua 9:23 – Dalam ayat 19-22, Yesus berbicara kepada sekelompok murid (rasul?)-Nya saja, di sini kepada semua orang yang mau menjadi pengikut-Nya. Di balik kata semua ini terasa nada pemberitaan Gereja masa awal.
Mau mengikut Aku 9:23 – Dalam Injil Lukas, para pengikut harus berjalan di belakang Yesus di jalan menuju Yerusalem, artinya berbagi nasib dengan-Nya.
Menyangkal dirinya 9:23 – Untuk menjadi pengikut Putra Manusia, manusia harus berbuat apa saja untuk tidak hidup berpusatkan dirinya sendiri. Maksudnya bukan hanya penolakan terhadap dosa atau kelakuan salah saja, bukan juga semacam matiraga, melainkan usaha terus-menerus untuk menolak dan meninggalkan dirinya sebagaimana diri itu terbentuk sebelum mengikuti Yesus. Segala sesuatu harus ditolak, agar Yesus bisa menjadi “tuan kehidupan”. Jadi, identitas yang dimaksud di sini ialah identitas sebelum mengikuti Yesus. Kalau seseorang menampik identitasnya sendiri yang lama, maka dengan sendirinya ia mulai siap mati demi Yesus.
Memikul salibnya 9:23 – Kata “salib” mengingatkan benda yang berbentuk tertentu dan sering diartikan secara dangkal sebagai derita sehari-hari. Maka, baiklah dipertimbangkan kemungkinan menggantikan kata “salib” dengan kata palang. Kata ini terasa lebih tepat pula sebagai terjemahan kata Yunani stauros. Palang dipikul orang hukuman ke tempat penyalibannya.
Boleh jadi bahwa pada waktu mengucapkan kata-kata ini, Yesus belum tahu bahwa Ia akan disalibkan, sehingga Ia berbicara secara metaforis berdasarkan kenyataan bahwa banyak orang Yahudi disalibkan oleh bangsa Roma.
Melalui metafor ini Yesus ingin menggambarkan kematian yang paling memalukan; kematian berupa penyaliban diterapkan pada para pemberontak, pembunuh dan penjahat kaliber berat saja. Memikul salib dalam ayat ini searti dengan “siap dibunuh” (menjadi martir) demi Yesus maupun menderita penolakan dan malu dari pihak orang yang tidak mau menerima pola hidup Yesus.
Setiap hari 9:23 – Ini tambahan Luk sendiri untuk menegaskan bahwa hidup sebagai pengikut Kristus merupakan tantangan tanpa henti-hentinya. Pengikut Kristus harus membuktikan ketaatan kepada Yesus setiap hari, bukan hanya dalam situasi tertentu saja.
Dan mengikut Aku 9:23 – Baru setelah memutuskan menjadi teman seperjalanan/senasib dengan Yesus, manusia mampu mengikuti Yesus, yaitu bergabung dengan-Nya sampai akhir.
Mau menyelamatkan nyawanya 9:24 – Ungkapan ini searti dengan “mau mempertahankan eksistensi yang ada pada masing-masing orang sebelum ia memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati”. “Tuan hidup”nya ialah dirinya sendiri. Baru setelah menjadi pengikut Yesus dalam arti yang sebenarnya, ia memperoleh hidup sejati, sebab “tuan hidup”nya ialah Yesus. Jadi, kata nyawa dalam kalimat ini memiliki dua arti yang berbeda-beda: Hidup sebelum dan sesudah menjadi pengikut Yesus.
Tentu saja perlu disadari bahwa memutuskan untuk mengikut Yesus bukan hanya perkara sesaat saja; orang yang telah terdaftar secara resmi pun sebagai orang Kristen belum tentu memutuskan untuk mengikut Yesus dengan cara seperti dijelaskan di sini!
Akan kehilangan nyawanya 9:24 – Di sini kehilangan nyawa searti dengan menjalani hidup yang sia-sia dan tidak berguna. Kesia-siaan itu terjadi karena tidak mau “mati” demi Yesus.
Kehilangan nyawanya karena Aku 9:24 – Artinya, barangsiapa rela menderita kehilangan dalam hidup ini demi Yesus, akan menyelamatkan nyawanya, artinya menaruh hidupnya di dalam tangan Yesus, sehingga hidupnya itu akan penuh arti dan nilai.
Hanya komitmen mendalam kepada Yesus dapat dijadikan alasan untuk siap kehilangan nyawa. (h. 247-249)
***
Apa yang penting untuk setiap kali dipertimbangkan kembali mungkin adalah soal motivasi ketika memilih untuk menjadi “pengikut Kristus”. Bukankah begitu kerap kita dapat menjumpai, tidak sedikit orang yang memilih “masuk Gereja”, dan/atau bertahan di dalamnya, lebih karena dua alasan ini. Pertama, keterpukauan pada gemerlapnya kehidupan Gereja. Bagi mereka, Gereja itu lebih merupakan tempat berhimpunnya banyak dari orang kaya atau berada. Dengan menjadi anggota Gereja mereka berharap dapat memperoleh prospek cerah dan kemudahan-kemudahan dalam merintis atau membangun usaha-usaha yang, sebenarnya, “ekonomistik” belaka sifatnya. Dengan menjadi anggota Gereja mereka membayangkan dapat memperoleh peluang besar untuk bisa meraup “limpahan rezeki” dan/atau “kehormatan” dari sana. Kedua, salah kaprah dalam menafsirkan ajaran Gereja. Bagi mereka ini, Tuhannya Gereja itu sangat murah hati, tidak banyak menuntut dan gampangan dalam menawarkan “Janji Keselamatan”. Hanya dengan dibaptis dan/atau mempertahankan baptisan mereka merasa pasti akan “selamat”. Bahkan jika cara hidup mereka nyatanya kacau-balau pun mereka tetap yakin pasti akan tetap “masuk surga”.
Alasan-alasan yang didorong lebih oleh pertimbangan kesenangan dan kepentingan pribadi yang egoistik ini tampaknya tidak hanya dimiliki oleh umat zaman ini. Pada zaman ketika Yesus historis tampil berkarya secara obyektif di dunia pun kecenderungan macam itu sudah muncul mengemuka. Pertanyaan kita mungkin: lalu, bagaimana sikap Yesus sendiri terhadap orang-orang macam itu?
Dalam Injil Suci kita dapat menemukan Ajaran Yesus tentang “Membangun Menara dan Maju Perang” (Lukas 14: 25-35). Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kedua perumpamaan yang terkandung dalam perikop “Segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikuti Yesus” ini? Dalam buku yang ditulisnya, yang bertajuk “Pesan Tuhan dalam Perumpamaan” (2015), Y.M. Seto Marsunu mengungkapkan: “Kedua perumpamaan ini hanya diceritakan di dalam Injil Lukas. Yesus menyampaikannya kepada orang-orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Ia menunjukkan kepada mereka apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berniat mengikuti-Nya. Orang yang tidak membenci (baca: lebih mengasihi) bapak, ibu, istri, anak-anak, saudara-saudara, dan bahkan nyawanya sendiri, tidak dapat menjadi murid-Nya (bdk. Mat. 10:37). Orang yang ingin menjadi murid Yesus harus lebih mengasihi Dia lebih daripada mengasihi orang-orang yang selama ini dikasihinya (bapak, ibu, istri, anak-anak, dan saudaranya). Untuk menjelaskan bahwa orang yang mau mengikuti-Nya harus berani berkurban, Yesus menyampaikan kedua perumpamaan ini.” (h. 95)
Dalam paparan selanjutnya, Y.M. Seto Marsunu kemudian membabarkan pengertian dari masing-masing perumpamaan tersebut. Pada intinya, kedua perumpamaan tersebut mengajarkan tentang perlunya “berpikir masak-masak sebelum bertindak sesuatu”, agar tidak mendapat malu atau pun kekalahan yang bisa jadi berujung penjara atau bahkan kematian. Kedua perumpamaan tersebut memiliki kemiripan, …….“Walaupun demikian, terdapat perbedaan di antara keduanya. Dalam perumpamaan pertama, orang yang membangun menara itu sendiri yang harus menanggung risiko kalau sampai ia mengalami kegagalan. Dalam perumpamaan kedua, bukan hanya raja, melainkan 10.000 orang yang bersama dia harus menanggung risiko. Risiko yang dihadapi oleh orang yang membangun hanyalah rasa malu di hadapan orang banyak. Sementara risiko yang harus dihadapi oleh raja dan 10.000 prajuritnya adalah rasa malu dan kematian…..” (h. 97).
Yang menarik adalah makna dari kedua perumpamaan itu dan fakta diajarkannya kedua perumpamaan tersebut kepada orang banyak oleh Yesus. Di sana kita dapat melihat sikap Yesus terhadap orang-orang yang “mungkin” egois itu. Tentang makna dari kedua perumpamaan tersebut itu sendiri, Y.M. Seto Marsunu akhirnya menyatakan:
“Banyak orang pada zaman itu ingin menjadi murid Yesus karena mengharapkan bahwa mereka dapat turut menikmati kemuliaan bila nanti Yesus memerintah sebagai Raja. Tetapi, Yesus malah menuntut orang yang ingin menjadi murid-Nya untuk memikul salib, dan menanggung penderitaan. Karena beratnya tuntutan Yesus kepada orang-orang yang ingin mengikuti-Nya, orang yang ingin mengikuti Yesus perlu memperhitungkan kemampuan dirinya, seperti yang dilakukan oleh orang yang hendak membangun menara dan raja yang hendak maju berperang. Bila memang mampu, baiklah orang itu mengikuti Yesus; bila tidak mampu, lebih baik ia mengurungkan niatnya untuk mengikuti-Nya. Jangan sampai mereka mengikuti Yesus dengan semangat besar pada awal, tetapi kemudian meninggalkan-Nya karena tidak tahan menanggung risikonya. Jika demikian, bukan hanya dia yang akan menanggung malu, tetapi juga para pengikut Kristus yang lain. Karena itu, keputusan untuk mengikuti Kristus harus dipertimbangkan secara matang.” (h. 98)
Kristianitas, nyatanya, adalah iman dan agama yang berat dan berbahaya. Jika kita kini dapat menanggungnya dengan “perasaan ringan” dan bahkan “sambil tertawa-tawa”, itu barangkali dikarenakan atau disebabkan oleh dua kemungkinan. Pertama, hati kita memang telah dipenuhi Roh Kudus sehingga kita sanggup melihat bahwasanya segala risiko dan beban itu (terutama, Salib itu) dapat kita tanggungkan bersama Tuhan sehingga segalanya terasa ringan dan “tidak lagi (akan) menyakitkan”. Atau, kemungkinan kedua, yakni bahwa kita mungkin telah terlampau serampangan dalam menafsirkan Allah, Yesus dan Gereja.
Semplak, Awal Desember 2019
Sumber Rujukan
- Leks, Stefan, Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius, 2003
- Marsunu, Y.M. Seto, Pesan Tuhan dalam Perumpamaan. Yogyakarta: Kanisius, 2015