oleh: Michael Dhadack Pambrastho
Perikop “Percakapan dengan Nikodemus (Yoh 3: 1-21) menampilkan satu tema yang amat penting dan mendasar bagi kehidupan spiritual-rohani umat beriman: kelahiran kembali. Dalam terang perkataan Yesus, kita mengetahui mengapa tema tersebut kita nyatakan penting dan mendasar. Dalam Yoh 3: 1-3 disingkapkan: “Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan, jika Allah tidak menyertainya. Yesus menjawab, kata-Nya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah’.”
Tetapi segera ditunjukkan bahwa gagasan “dilahirkan kembali” bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah dicerna. Bersama Nikodemus kita mungkin juga mengajukan pertanyaan yang sama. “Kata Nikodemus kepada Yesus: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh 3:4).
Selanjutnya, perikop tersebut memaparkan: “Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” (Yoh 3: 5-8).
Sampai di sini, perikop itu kemudian menunjukkan bahwa Nikodemus masih juga tak memahami perkataan Yesus. “Nikodemus menjawab, katanya: ‘Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?’ (Yoh 3:9). Kenyataan tersebut sepertinya membuat Yesus relatif terperangah dan mungkin juga cukup frustrasi. “Jawab Yesus: ‘Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?’” (Yoh 3:10).
***
Dalam teks yang coba kita selami itu, “kelahiran kembali” dipertautkan dengan Kerajaan Allah. “Kelahiran kembali” adalah syarat untuk dapat melihat Kerajaan Allah. Yesus nampaknya memakai konsep “kelahiran kembali” untuk merujuk kondisi-kondisi spiritual-rohaniah, sementara Nikodemus saat mendengar konsep tersebut segera membayangkan kenyataan-kenyataan fisik-jasmaniah. Maka tak heran kalau pertanyaan Nikodemus kemudian adalah: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
Barangkali, sampai batas tertentu, Nikodemus tak bisa terlalu dipersalahkan juga. Ketidakmengertian Nikodemus bersumber pada kemiripan bentuk linguistik antara konsep “kelahiran kembali” dengan konsep “kelahiran” pada umumnya. Lalu, kegagalannya memahami arti perkataan Yesus disebabkan oleh ketidakmampuannya membedakan kedua konsep tersebut.
Sebagai sebuah metafor spiritual atau rohani, “kelahiran kembali” memang meminjam pengertian dasarnya dari konsep “kelahiran” dalam pengalaman fisik-jasmaniah. Dengan demikian, pada titik-titik tertentu, ada kesamaan pengertian antara konsep “kelahiran kembali” sebagai konsep spiritual-rohani dengan konsep “kelahiran” sebagai konsep fisik-jasmaniah. Kesamaan dalam pengertian yang macam bagaimanakah itu? Kesamaan itu ada dalam hal bahwasanya pada keduanya terdapat kandungan pengertian tentang “adanya peralihan atau perubahan dari satu situasi menuju situasi lain, perubahan dari corak realitas yang satu menuju corak realitas yang lain.”
Peralihan atau perubahan adalah substansi yang melekat pada setiap peristiwa “kelahiran”. Dalam peristiwa “kelahiran jabang bayi”, misalnya. Di sana, sang jabang bayi beralih (tempat) dari alam rahim ibunya menuju alam dunia luas. Atau misalnya kelahiran sebuah ide atau gagasan subyektif tertentu. Dalam peristiwa “kelahiran sebuah ide”, sang ide beralih lokasi dari kepala sang pemikir menuju tempat tertentu lainnya, misalnya menjadi coretan di atas kertas atau mewujud dalam bentuk-bentuk obyektif tertentu seperti lukisan, sebuah sketsa puisi dalam sebuah kitab, sebuah wujud patung, pahatan atau sebentuk bangunan fisik macam rumah atau gedung.
Dalam metafor “kelahiran kembali”, yang menjadi konsep spiritual-rohani, peralihan atau perubahan itu merujuk pada peralihan dalam corak kesadaran yang satu atau perubahan bentuk kehidupan batin tertentu menjadi corak kesadaran yang lain atau bentuk kehidupan batin tertentu lainnya. Dalam “kelahiran kembali”, sang subyek beralih, berubah, berpindah dari suatu situasi spiritual-rohani lama menuju suatu situasi spiritual-rohani baru.
Dalam pembicaraan Yesus, seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, jika orang itu dilahirkan kembali. Kata “kembali” berarti juga “dari atas”. Maka kelahiran yang dibicarakan Yesus adalah suatu kelahiran rohani, yang baru, yang berasal dari “atas”, yaitu dari lingkungan ilahi (sebagai lawan dari dunia manusia yang tidak percaya, dari “bawah”). “Kelahiran kembali” yang dibicarakan Yesus diberi asal usul yang baru, asal usul dari Allah; menurut pemikiran Yohanes, asal usul seseorang menentukan keberadaan seseorang. (A.S. Hadiwiyata, 2008, h. 48)
Hal ini barangkali akan semakin jelas dalam uraian berikut. Dalam usaha untuk menjelaskan maksud perkataannya kepada Nikodemus, Yesus lalu membandingkan “dilahirkan kembali” dengan “dilahirkan dari air dan Roh”. Ini menunjukkan bahwa cara seseorang “dilahirkan kembali” misalnya adalah dengan “dilahirkan dari air dan Roh”. Tapi, apa artinya “dilahirkan dari air”? Apa artinya “dilahirkan dari Roh”?
Dalam konteks keagamaan pada umumnya air merupakan sarana yang biasa dipahami dan dipakai untuk menyucikan. Misalnya sebelum melakukan ibadat tertentu, seseorang diperciki dulu dengan air suci. Pembasuhan tersebut dimaksudkan untuk meluruhkan debu-debu dosa yang mungkin masih melekat pada seorang tersebut sebelum ia menjalankan ritual. Agar nantinya, saat ia menjalankan ibadatnya, ia telah ada dalam keadaan suci. Jadi air adalah sarana yang mengantarkan seseorang beralih dari keadaan diselimuti dosa menjadi keadaan yang bersih, suci. Kebersihan dan kesucian itu sendiri merupakan syarat yang harus dipenuhi apabila seseorang tersebut memang mengharapkan doa-doa dalam ibadatnya “berhasil” dan ia sendiri sungguh mencapai persatuan dengan “Sang Ilahi”.
Dalam buku “Tafsir Injil Yohanes”, khususnya pada bagian yang menjelaskan ayat-ayat dalam perikop “Percakapan dengan Nikodemus” A.S. Hadiwiyata (2008) menulis: “Ay. 5 mengulang lagi perlunya kelahiran dari atas, tetapi kali ini dilukiskan sebagai lahir dari air dan roh (ex hudatos kai pneumatos). ‘Reorientasi’ ini disempurnakan oleh kuasa ilahi dan bukan kehendak manusiawi (1:12). Air dalam Injil ini kerap kali digunakan sebagai lambang dari roh (7: 38-39) dan perwahyuan Allah dalam Kristus (4:14). Apakah Yohanes memaksudkannya sebagai acuan kepada Baptis dalam Injil ini? Jauh lebih mungkin bahwa “air” di sini dimaksudkan sebagai kebenaran yang diwahyukan dalam Kristus, dan kelak para penafsir mengidentifikasikan dengan Baptis. Ada juga sedikit petunjuk tekstual bahwa “air dan” merupakan sisipan atau tambahan dari waktu kemudian karena dalam percakapan ini yang digunakan adalah “dari roh”. Tambahan “air dan” merupakan usaha untuk mengaitkannya dengan Baptis. (h. 49)
Sedang dalam buku “The Power of Symbols: Daya Kekuatan Simbol” (2002), saat mengulas simbolisme api dan air, F.W. Dillistone menulis:
……..Kemenduaan yang sama tampak dalam simbolisme air. Manusia dapat tidak makan selama berhari-hari dan masih tetap hidup. Akan tetapi, manusia tidak dapat hidup lama tanpa air. Dengan motivasi lain apa pun dan dalam keadaan lain apa pun para suku bangsa pengembara berpindah-pindah tempat, kebutuhan akan persediaan air sangat mutlak: sumur atau perigi atau sumber atau oasis dengan sendirinya mempunyai arti penting yang besar sebagai symbol penyelamatan dan penyegaran rohani. Contoh yang sangat memukau terdapat dalam Yohanes 4. Yang harafiah dan yang simbolis saling mengimbangi. Wanita Samaria berpegang pada masa lalu dan pada tradisi tetapi mengalami kelelahan oleh karena setiap hari harus pergi berjalan kaki ke sumur itu; Yesus dengan sopan minta diberi air minum untuk melepaskan dahaga jasmani-Nya tetapi menunjuk melampaui sumur dan air itu kepada pemenuhan kebutuhan rohani dengan menanggapi kata-kata-Nya.
Namun, dilihat dari sudut lain, air dapat merupakan ancaman dan kehancuran. Kesusastraan dunia berlimpah dengan kisah-kisah air bah, topan, putting beliung, laut menggelombang, sungai membanjir, kapal-kapal tenggelam. Kisah Nabi Nuh, kenangan akan orang-orang Mesir yang ditelan Laut Merah, perjuangan para pelaut di kapal yang ditumpangi Nabi Yunus semuanya secara dramatis dikisahkan oleh para penulis Perjanjian Lama. Air dapat menjadi symbol dahsyat daya kuasa Yahwe atau kekuatan suatu monster setan. Salah satu lagu pujian orang Ibrani dalam bentuk mazmur adalah Mazmur 107 yang termasyhur itu, yang mengisahkan penyelamatan orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas.
Saya membicarakan pelbagai simbolisme yang berkaitan dengan bapts air dalam buku saya terdahulu Christianity and Symbolism, tetapi sejak itu saya lebih banyak belajar tentang kekhawatiran atau kegelisahan luar biasa mengenai pencemaran dan penajisan yang terdapat di kalangan Helenis. Buku Robert Parker, Miasma menunjukkan dengan contoh tak terbilang banyaknya betapa tersebar dan secara kontinu orang berpikir tentang pembersihan dan pemurnian. Sedikit banyak hal ini dirasakan dalam kebanyakan masyarakat, tetapi di tempat pekerjaan sehari-hari mengolah tanah dan menggunakan pupuk tidak merupakan bagian hidup bersama, di situ pemikiran tentang pembersihan dan pemurnian mungkin tidak begitu kentara. Namun, di dalam tata ekonomi berbasis tanah dan air di kawasan Laut Tengah, upacara-upacara pemurnian teramat penting secara keagamaan. Ada upacara pemurnian dengan permandian bagi orang-orang yang diterima sebagai anggota sekte-sekte keagamaan dan upacara pemurnian lebih lanjut bagi orang-orang yang terlibat dalam ibadat. Pasti penting artinya bahwa dalam tipologi para Bapa Gereja purba tema-tema yang sangat dominan adalah:
- Baptis berarti masuk ke dalam Firdaus baru Adam Kedua;
- Baptis berarti diselamatkan di dalam bahtera Gereja dari air penghakiman yang dipragambarkan oleh air bah Nuh;
- Baptis berarti dengan selamat menyeberangi air seperti orang-orang Israel pada eksodus Laut Merah;
- Baptis berarti menyeberangi Sungai Yordan memasuki Kanaan di bawah kepemimpinan Yosua (Yesus).
Tambahan lagi, simbolisme air yang sangat kuat itu tetap digunakan dalam doa kuno Benedictio Pontis dalam ritus Roma:
Ya Allah, Roh-Mu melayang-layang di atas permukaan air pada awal mula dunia, supaya pada waktu itu pun sifat air dapat memperoleh keuetamaan pengudusan. Ya Allah, dengan air Engkau membasuh kejahatan-kejahatan dunia yang bersalah dan dengan berlimpahnya air Engkau menggambarkan kelahiran kembali, supaya unsure yang satu dan sama itu merupakan misteri berakhirnya kejahatan dan berawalnya keutamaan.
Turun ke tempat yang hina dina, mirip dengan lahir dari air yang mengalir dari rahim ibu, dibersihkan dari bekas-bekas hidup sebelumnya, dan mengenakan pakaian baru – semuanya itu membuat baptisan Kristen menjadi riotus yang penuh dengan daya kekuatan simbolis, dengan di dalamnya air merupakan unsure pokok yang memiliki kemungkinan penafsiran keagamaan yang hidup dalam bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Seperti ditunjukkan oleh penulis Surat kepada orang-orang Ibrani, ada hubungan yang erat antara tubuh yang dibasuh dengan air murni dan hati nurani yang menjadi bersih di hadapan Allah.
Dengan demikian, air, meskipun dapat digunakan hanya sebagai tanda untuk menarik dan menolak, sepanjang sejarah manusia telah menjadi simbol yang kekuatannya luar biasa. Dalam bab tentang “The Waters and Water Symbolism” dalam bukunya Patterns in Comparative Religion, Mircea Eliade menyatakan dengan sangat jelas sehingga kita tidak ragu-ragu bahwa (seperti dirumuskannya) “air menyimbolkan seluruh daya kemampuan: air adalah fons et origo, sumber seluruh eksistensi yang mungkin ….. air menyimbolkan zat purba asal datangnya semua bentuk dan tujuan kembalinya semua bentuk”. Ia menimba dari kebudayaan di banyak tempat dan banyak masa untuk menunjukkan bagaimana air dan simbolismenya telah berkaitan dengan kosmogoni, penciptaan hidup, kelahiran kembali, epifani, dan pembaruan yang sangat mengagumkan. Jika ada unsur yang dapat dipandang sebagai simbol alami yang universal, unsur itu adalah air. (h. 68-70)
Sementara dalam Katekismus Gereja Katolik kita dapat menemukan ketentuan seperti berikut ini:
1213 Pembaptisan suci adalah dasar seluruh kehidupan Kristen, pintu masuk menuju kehidupan dalam roh [vitae sprotualis ianua] dan menuju Sakramen-sakramen yang lain. Oleh Pembaptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah; kita menjadi anggota-anggota Kristus, dimasukkan ke dalam Gereja dan ikut serta dalam perutusannya: “Pembaptisan adalah Sakramen kelahiran kembali oleh air dalam Sabda” (Catech. R. 2,2,5).
1214 Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani “baptizein”] berarti “mencelup”. Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia sebagai “Ciptaan baru” (2 Kor 5:17; Gal 6:15).
1215 Sakramen ini juga dinamakan” permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5), karena menandakan dan melaksanakan kelahiran dari air dan dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk “dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3:5).
1254 Pada semua orang yang sudah dibaptis, apakah anak-anak atau orang dewasa, iman masih harus tumbuh sesudah Pembaptisan. Persiapan Pembaptisan hanya menghantar sampai ke ambang kehidupan baru. Pembaptisan adalah sumber kehidupan baru dalam Kristus, yang darinya seluruh kehidupan Kristen mengalir. Karena itu, setiap tahun pada malam Paska, Gereja merayakan pembaharuan janji Pembaptisan.
Lebih jauh lagi, Yesus mempertentangkan antara “dilahirkan dari daging” dan dilahirkan dari “Roh”. Yesus seperti memperingatkan tentang asal dan jenis kuasa yang mungkin menentukan gerak batin kita saat mengharapkan “kelahiran kembali” itu: daging atau Roh. Perikop itu sendiri tidak menjelaskan apa persisnya yang dimaksud dengan “daging” dan apa sebenarnya yang dapat dimengerti dengan “dilahirkan dari daging”, sebagaimana pula tak ada penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan “Roh” serta apa artinya “dilahirkan dari Roh”.
Penjelasan sedikit banyak dapat kita peroleh dari teks-teks Paulus. Di berbagai bagian dalam tulisan-tulisannya Paulus memang cukup banyak membahas dan menyingkapkan pengertian-pengertian mengenai “daging” dan “Roh”. Sejumlah uraiannya barangkali dapat menolong menjernihkan pemahaman kita tentang pengertian mengenai kedua substansi tersebut.
Dalam Roma 8 Paulus menulis: “….yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu….” (Rm 8: 4-11)
Sedang dalam Galatia 5 Paulus menulis: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging –karena keduanya bertentangan— sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hokum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteran, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu –seperti yang telah kubuat dahulu— bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” (Gal 5: 16-26)
Selain itu, dari buku “Tafsir Injil Yohanes” (2008) kita dapat memperoleh keterangan A.S. Hadiwiyata: “Ay.6 menekankan lebih lanjut sifat ilahi dari kelahiran baru ini dan kontras daging (sarx) dan roh (pneuma) hendaknya jangan dimengerti sebagai dualisme moral, melainkan kontras antara yang duniawi dan ilahi….” (h.49)
Dalam bagian lain perikopnya Yohanes menyingkapkan perkataan Yesus yang mengumpamakan “tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” dengan “angin (yang) bertiup ke mana ia mau”: kita mendengar bunyinya, tetapi kita tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi.
Teks tersebut barangkali dapat ditafsirkan seperti berikut ini. Kondisi “lahir dari Roh” pada akhirnya adalah anugerah. Kita memang dapat –dan memang seharusnyalah demikian— melaksanakan sejumlah tindakan yang menunjukkan upaya kita ke arah sana. Namun pada akhirnya, yang menentukan apakah kita memang akan berhasil atau tidak dalam meraih kondisi “lahir dari Roh” itu adalah Allah sendiri sebagai Yang Ilahi pemilik Roh. Kita juga tidak tahu mengapa, bagaimana atau lewat peristiwa apa, misalnya, kita akan mengalami kondisi “lahir dari Roh”, atau apa selanjutnya yang akan terjadi apabila kita memang “berhasil” mencapai kondisi “lahir dalam Roh” itu. Yang perlu kita lakukan mungkin hanyalah terus menerus berusaha mencapai kondisi itu.
A.S. Hadiwiyata sendiri menafsirkannya demikian: “Kelahiran kembali dilaksanakan hanya oleh Roh ilahi, dan sekarang Roh itu dilukiskan secara simbolik. Kata yang diterjemahkan dengan angin adalah pneuma, yang juga berarti roh –contoh lain dari kata dengan makna ganda dalam Yohanes. Dalam melukiskan misteri angin dan kebebasannya untuk datang dan pergi, ayat ini juga bicara mengenai misteri dan kebebasan Roh. Permainan kata pneuma mendorong Yohanes berbicara mengenai: demikianlah dengan ….. dilahirkan dari Roh ….., yaitu kelahiran kembali dilaksanakan secara misterius oleh kuasa ilahi yang bebas mengatasi mereka….” (h. 49)
***
Sulit dipungkiri bahwa hasrat terdalam setiap orang Kristiani adalah kesanggupan untuk setiap kali dapat menyaksikan dan merasakan kehadiran Kerajaan Allah. Dan lewat paparan di atas kita telah mendengar bahwasanya kita baru bisa melihat Kerajaan Allah itu jika, dan hanya jika, kita telah mengalami “kelahiran kembali”. Lalu, kunci untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah dengan dilahirkan dari air dan Roh.
Hari-hari ini, masihkah kita mengalami “kelahiran kembali” itu? Masihkah kita memiliki keterbukaan untuk mengenali karya-karya Allah? Masihkah kita menghidupi damai, sukacita, keadilan dan kebebasan yang merupakan ciri Kerajaan Allah itu?
Jauh di masa lalu kita mungkin telah mengalami pembaptisan. Dengan begitu, dalam arti tertentu, kita telah “dilahirkan dari air”. Tetapi “waktu” mudah dan mungkin telah membuat segala janji baptis itu pudar dan mengabur dalam ingatan. Komitmen kita pun mungkin tak selalu kuat. Dunia sarat tekanan dan ramai tawaran yang menggoda, mengikat, kemanusiaan kita. Kita pun lebih kerap tenggelam dalam dunia.
Lalu, bagaimana dengan syarat “dilahirkan dari Roh”? Kelahiran kembali atau “reorientasi spiritual” itu nyatanya, pada akhirnya, adalah perkara kuasa ilahi dan bukan kehendak manusiawi. Kelahiran kembali dilaksanakan hanya oleh Roh Ilahi. Persoalannya, bukankah Roh itu seperti “angin yang bertiup”: kita hanya dapat mendengar bunyinya tetapi kita tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi? Misteri. Kalau memang demikian halnya, lalu, dari pihak kita, apakah sebenarnya yang dapat kita lakukan jika kita memang berharap dapat memperoleh kembali Kerajaan Allah itu?
Dalam terang Injili, jawabannya terletak pada pilihan corak relasi kita dengan Yesus. Sebab seperti dikatakan-Nya: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3: 16-17) Yesus adalah Anak Tunggal Allah yang telah turun ke dunia, mengalami dunia dan, karenanya, mengenal dunia. Karena itu pula kita boleh percaya kepada-Nya dan menuruti perkataan-perkataan-Nya mengenai hal-hal duniawi. Sebab kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat ..….” (Yoh 3:11). Tetapi, lebih-lebih, kita boleh mempercayai dan menuruti perkataan-perkataan-Nya mengenai hal-hal sorgawi. Sebab, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia”. (Yoh 3:13)
Roh Ilahi itu mungkin memang bebas. Tapi jika kita setia pada Yesus, dan senantiasa bersedia berjalan bersama-Nya, kita bisa berharap bahwa Roh itu pada akhirnya tidak akan pernah menelantarkan kita. Kita mungkin tidak tahu kapan dan bagaimana caranya Roh Ilahi itu berkarya dalam diri kita sebagaimana kita tidak tahu dari mana atau ke mana “angin itu bertiup”. Tapi, pasti, Ia akan memberikan apa-apa yang kita butuhkan menurut saat-Nya yang tepat. Pun, dalam hal “kelahiran kembali”.
Semplak, Akhir November 2019
Sumber Rujukan
- Hadiwiyata, A.S., 2008, “Tafsir Injil Yohanes”, Yogyakarta: Kanisius
- Dillistone, F.W., 2002, “The Power of Symbol: Daya Kekuatan Simbol”, Yogyakarta: Kanisius
- Katekismus Gereja Katolik, 2007, Ende: Penerbit Nusa Indah