oleh: Michael Dhadack Pambrastho
NATAL adalah peristiwa Allah yang menjadi manusia demi tujuan penebusan, karena Kasih-Nya yang melimpah, untuk memastikan keselamatan kekal bagi umat manusia. Di sana, Allah menyingkapkan eksistensinya yang sebelumnya tersembunyi dan membuka jati dirinya yang paling mendalam kepada dunia dan manusia. Ini adalah kejadian agung, spektakuler dan sangat tidak biasa. Di sana, Allah transenden yang sesungguhnya jauh, maha besar, dan tak terbahasakan berinkarnasi menjadi manusia imanen yang dekat, akrab dan dapat diraba serta dikenali. Tidak pernah sebelumnya atau sesudahnya Allah pernah melakukan hal semacam itu. Dan sejauh ini, hal tersebut hanya terjadi sekali sepanjang dunia ini dijadikan. Karena bukan merupakan kejadian biasa maka dapat dimengerti jika kemudian hal itu sulit diterima akal sehat atau nalar kebanyakan manusia. Dari sejarah kita sadar bahwa hal ini hanya dapat dipahami dan dirayakan oleh mereka yang sungguh mengimani Yesus, Sang Kristus, Anak Tunggal Allah.
Dalam peristiwa Natal itu, dari sekian banyak cara yang mungkin untuk menyatakan diri di hadapan manusia, Allah memilih satu cara yang terbilang sangat rendah hati: Allah memilih jalan yang sama dilalui oleh semua manusia lainnya ketika hadir ke dunia: Allah memilih cara kelahiran. Lewat peristiwa kelahiran dan menjadi serupa dengan manusia, Allah menunjukkan kepada kita bahwa Ia adalah Allah yang bersedia menyelami kondisi manusia. Di sana, Allah kita tampil bukan sebagai Allah yang hanya senang menonton dari ketinggian yang berjarak; bukan Allah narsistik yang haus sanjungan dan puji-pujian atau gemar mengumpulkan kurban sesembahan dari dunia dan manusia sebagai budak-Nya; bukan pula Allah penuntut yang suka main perintah menurut ego dan kemauannya-Nya sendiri yang mutlak melainkan Allah yang rendah hati dan terbuka terhadap dialog serta peka terhadap kondisi dan kebutuhan pihak lain yakni dunia dan manusia sebagai sahabat yang dikasihi-Nya. Allah kita adalah Allah yang mau dan bersedia untuk berjalan bersama manusia di dunia, mengarungi suka duka kehidupan dengan segala kemuliaan dan kelemahannya, kegembiraan dan kepahitannya. Karenanya, Allah kita adalah Allah yang sungguh memahami persoalan-persoalan paling mendesak, kebutuhan-kebutuhan paling mendasar dan impian-impian terdalam manusia.
Dengan cara dilahirkan, Allah Pencipta tidak sekedar merendahkan diri dengan menjadi serupa dengan manusia, mahluk ciptaan. Tetapi, lebih jauh lagi dari itu, Allah bahkan lebih merendahkan diri lagi dengan memilih cara kelahiran yang tidak biasa: cara kelahiran yang diwarnai dengan berbagai kondisinya yang penuh kekurangan, yakni cara kelahiran yang ditandai oleh kemiskinan, penderitaan dan kepedihan. Allah tokh tidak memilih lahir dalam sebuah istana megah sebagai anak penguasa yang bergelimang kuasa, harta dan kemegahan, melainkan hadir dalam sebuah keluarga jelata sederhana di sebuah kandang domba miskin-papa yang sebenarnya amat tidak layak sebagai tempat kelahiran anak manusia. Lalu, Allah yang tampil dalam rupa bayi Yesus, sejak usia sangat dini, sudah mesti menanggung berbagai derita dan kepedihan: derita dalam pelarian ke tanah asing di negeri-negeri yang jauh dan kepedihan karena diburu-buru dengan ancaman pembunuhan oleh dunia yang memusuhi dan ingin menyingkirkan-Nya.
Maka, Natal, dengan “kelahiran” sebagai pusat cerita, lalu adalah momen yang menunjukkan komitmen Allah untuk berbela rasa kepada manusia yang lemah. Natal merupakan saat yang menunjukkan solidaritas Allah pada manusia yang rapuh. Natal merupakan bukti keberpihakan Allah kepada manusia dengan segala penderitaannya. Tak heran jika Natal kemudian dipahami sebagai titik awal kehadiran Allah sebagai manusia yang langsung menyeret-Nya ke dalam lubang got sejarah yang nista. Natal kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari Peristiwa Salib itu dimana juga karena kasih-Nya Allah rela membiarkan diri diperkarakan dan dibantai pertikaian zaman secara amat mengenaskan dan memilukan. Titik puncak dari Peristiwa Yesus itu sendiri secara keseluruhan adalah kebangkitan dalam Paskah yang Jaya. Jalinan rangkaian ketiga momen dari kisah penebusan dan penyelamatan itu (Natal, Peristiwa Salib dan Paskah Kristus) pada akhirnya menyingkapkan dan menegaskan satu hal: Kemuliaan Allah kita bukanlah kemuliaan yang kosong melainkan sarat berisi pemahaman akan kondisi-kondisi eksistensial manusia, dunia dan kehidupan.
Semplak, Medio November 2019