GUA MARIA DELLA STRADA
Warga paroki merindukan kehadiran Gua Maria di dalam gereja.
Kerinduan umat Katolik St. Ignatius Loyola akan Gua Maria sudah lama terpendam. Dalam doa-doa, umat rindu memiliki sebuah tempat hening di mana mereka dapat berjumpa dengan Bunda Maria, menyampaikan syukur, harapan, serta pergumulan hidup.
Kerinduan itu akhirnya diwujudkan pada 26 Mei 2025, bersama dukungan penuh Romo Paroki RD Antonius Dwi Haryanto, pembangunan Gua Maria dimulai. Suasana penuh sukacita menyertai setiap tahap pengerjaan. Umat bekerjasama, baik lewat doa maupun materi, karena mereka yakin Gua Maria ini bukan sekadar bangunan, melainkan tanda kasih dan kerinduan iman yang diwujudkan secara nyata.
Selama dua bulan pengerjaan, umat menyaksikan bagaimana batu demi batu ditata dan rancangan perlahan menjadi kenyataan, hingga pada 28 Juli 2025, Gua Maria rampung berdiri menjadi taman doa baru bagi umat dan akhirnya di peringatan HUT Paroki St. Ignatius Loyola ke 10, yang jatuh pada hari Minggu, 3 Agustus 2025, Gua Maria yang diberi nama “Gua Maria Della Strada” diresmikan oleh Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM; Danlanud Atang Sendjaja, A. F. Picaulima, S.Sos, Marsekal Pertama TNI; dan RD Antonius Dwi Haryanto, selaku Pastor Paroki. Di waktu yang sama diresmikan juga lonceng gereja.
Patung Bunda Maria Della Strada ini dikerjakan oleh para pengrajin di Yogyakarta, membutuhkan waktu 5 minggu hingga akhirnya tiba dengan elok di tengah umat. Saat patung diletakkan di Gua yang sudah selesai dibangun, banyak umat merasa haru, penuh rasa syukur dan berharap agar Bunda Maria Della Strada selalu menemani dalam perjalanan hidup mereka.
Kiranya Gua Maria Della Strada ini berdiri bukan hanya sebagai bangunan fisik tetapi menjadi oase rohani, tempat umat dapat datang dengan hati yang penuh rasa syukur, penuh pengharapan dan doa. Semoga Bunda Maria Della Strada senantiasa menyertai setiap Langkah hidup umat, sebagaimana ia menuntun Santo Ignatius Loyola untuk selalu berjalan dalam kehendak Allah.
Tuhan Yesus Memberkati.
Kisah Maria Della Strada
Tradisi orang Katolik di Italia menempatkan Bunda Maria sebagai pelindung perjalanan. Setiap kali mau bepergian jauh selalu berdoa: “ Maria della Strada, doakanlah kami”. Spiritualitas ungkapan tersebut menunjuk pada pembatinan Bunda Maria selalu ada menyertai perjalanan anak-anaknya.
Maria della Strada dalam lingkungan Jesuit tidak bisa dilepaskan dari peran strategis penyertaan Maria dalam perjalanan rohani St. Ignatius Loyola maupun Serikat Yesus. Ignatius kecil mengenal Maria pertama kali melalui Lukisan Maria Menerima Kabar Gembira di dinding rumahnya di Loyola. Penyertaan Maria dalam perjalanan rohaninya hadir saat cita-cita Ignatius menjadi Kesatria Kerajaan diremukkan oleh ledakan meriam. Maria mengilhami Ignatius ber-discernment mengubah visi hidupnya menjadi abdi Kristus. Ignatius diteguhkan saat menanggalkan jubah dan pedang di kaki altar Maria di Montserrat. Maria membersamai perziarahan silih-dosa Ignatius ke Yerusalem sebagai peziarah papa. Maria mendampingi pula saat Ignatius bersama rekan-rekannya mengikrarkan kaul: mengabdi kepada Kristus dalam ketaatan penuh kepada Paus.
Maria della Strada adalah gereja kecil di kota tua Roma. Gereja tersebut menjadi tempat berkumpulnya tarekat Jesuit merayakan ekaristi, berkhotbah dan menjalankan karya-karya misi, yang menjadikan mereka tenar. Sesudah Serikat Yesus disahkan oleh Paus, Serikat membangun gereja Gesu sebagai gereja induk. Ikon Maria della Strada yang ada di dalam gereja Maria della Strada dipindahkan ke dalam kapel di dalam Gereja Gesu, menjadi simbol penyertaan dan bimbingan Maria dalam karya karya misi para Jesuit.
Maria Della Strada dengan perahu di bawahnya adalah simbol yang kaya akan makna spiritual, mewakili harapan, keselamatan, dan bimbingan dalam perjalanan hidup menuju Allah. Karya tersebut merupakan buah keprihatinan seorang Jesuit, Rm. Pedro Arrupe, Superior Jendral Serikat Yesus yang terguncang batinnya melihat penderitaan pengungsi vietnam saat melarikan diri dari rezim komunis, menaiki perahu kecil rapuh menentang samudra mencari kemerdekaan. Kegelisahannya menggerakkan Arrupe membentuk Jesuit Refugee Service, misi pelayanan global untuk menemani, melayani dan membela para pengungsi.
Jalan perziarahan manusia sering kali tidak terduga, berkelok pada pilihan, dihempas angin, diterpa gelombang, atau sebaliknya terjebak ruang hampa bergelut dengan kekosongan. Yang jelas kita tidak selalu siap menghadapi itu semua. Laksana perahu kecil rapuh di tengah samudera. Kita memerlukan sosok yang menenangkan namun kuat, Maria bersama Putera-Nya. Bersamanya kita merasa disertai, diteguhkan, dijaga, serta dibimbing dalam hidup peziarahan menuju Allah.
Pada saat itu kita bisa berhenti sejenak, datang pada Maria della Strada di Paroki St. Ignatius Loyola LANUD Atang Sendjaja, memandang, lalu berdoa penuh penghayatan: “Maria della Strada, doakanlah kami …”