Sejarah Puasa Katolik: Dari “Black Fast” hingga Aturan Modern

by | Feb 19, 2026 | Artikel, Lentera

(Gambar: Daniele Crespi (1598-1630), “The Supper of St. Charles Borromeo”)

Tradisi puasa dalam Gereja Katolik memiliki perjalanan panjang yang menarik. Banyak umat mungkin tidak mengetahui bahwa sebelum abad ke-13, Gereja menjalankan pola puasa yang sangat ketat yang dikenal dengan nama Black Fast. Praktik ini bukan sekadar diet rohani, tetapi sebuah laku asketis yang membentuk disiplin tubuh dan jiwa.

Artikel ini merangkum sejarah, aturan, perubahan, hingga fakta-fakta unik seputar puasa Katolik dari masa ke masa.

Apa Itu Black Fast?

Sebelum abad ke-13, umat Katolik menjalankan puasa yang sangat ketat selama masa Prapaskah. Pola puasanya memiliki beberapa ciri utama:

1. Makan Sekali Sehari

Black Fast mengharuskan umat hanya makan satu kali dalam sehari, biasanya setelah ibadah Vesper (sekitar pukul 15.00). Bila memakai istilah modern, pola ini mirip OMAD—One Meal A Day.

Masa makan hanya berlangsung sekitar 60 menit, bahkan ada yang hanya 30 menit. Setelah itu mulut “dikunci” kembali hingga esok hari.

2. Pantangan Selama 40 Hari

Selama masa Prapaskah, umat dilarang mengonsumsi:

  • Daging: semua makhluk bernyawa.
  • Lacticinia: produk hewani seperti telur, susu, keju, dan mentega.
  • Lemak hewani: termasuk menumis dengan tallow, lard, atau butter.

Memasak hanya diperbolehkan menggunakan minyak nabati seperti minyak zaitun.

3. Waktu Buka Puasa

Buka puasa dilakukan setelah ibadah Vesper, yang dalam biara-biara ketat dijalankan pada pukul 15.00, mengenang saat wafatnya Kristus.

4. Disiplin Tambahan: Pantang Hiburan & Hening

Selain pantangan makanan, umat juga didorong untuk:

  • Tidak minum minuman rekreasional: kopi, teh manis, alkohol.
  • Pantang hiburan: tidak menonton, tidak mendengarkan musik, tidak bersosial media (analoginya di zaman modern).
  • Menjalani keheningan dan meningkatkan waktu refleksi.

5. Puasa Xerofagi bagi Peniten

Bagi umat yang ingin melakukan tobat lebih serius, dikenal praktik Xerofagi—makan makanan kering dan sederhana seperti:

  • roti gandum kasar
  • sayuran rebus tanpa bumbu
  • buah kering
  • air putih

Tradisi ini mirip mutih atau ngrowot dalam budaya Jawa: benar-benar laku prihatin.

Semua ini dimaksudkan untuk meneladani 40 hari Yesus berpuasa di padang gurun.

Catatan Sejarah Penting

1. Makna 40 Hari

Puasa Yesus di padang gurun terjadi sesaat setelah Ia dibaptis—sebuah masa persiapan besar sebelum Ia memulai pelayanan publik.

2. Retaknya Disiplin Puasa di Abad ke-13

Pola puasa ketat mulai mengalami pelonggaran akibat perkembangan teologi, terutama pemikiran Thomas Aquinas.

3. Mardi Gras: Pesta Sebelum Puasa

Larangan mengonsumsi telur dan produk susu menjadi alasan munculnya tradisi Mardi Gras (Selasa Lemak)—hari untuk menghabiskan stok lemak sebelum memasuki Prapaskah.

Perubahan Aturan Puasa: Tiga Tokoh Utama

Sepanjang sejarah, ada tiga figur Gereja yang membuat perubahan besar terhadap disiplin puasa.

1. Thomas Aquinas (Abad ke-13)

Thomas Aquinas membuka “celah teologis” lewat prinsip terkenal:

“Liquidum non frangit jejunium”Cairan tidak membatalkan puasa.

Awalnya pernyataan ini dimaksudkan agar umat tidak bingung mengenai hidrasi. Namun dalam praktik, umat mulai memasukkan minuman berkalori seperti kopi dan cokelat panas ke dalam masa puasa.

Dari sinilah tradisi minum minuman selain air selama puasa mulai diperbolehkan.

2. Paus Benediktus XIV (1741)

Pada abad ke-18, keluhan umat makin banyak:

  • “Kami kerja fisik, berat lho…”
  • “Nutrisi minim selama 40 hari tidak sehat…”

Melalui ensiklik Non Ambigimus, Gereja memberikan dispensasi bagi umat tertentu untuk makan daging selama Prapaskah.

Ini menjadi titik di mana puasa mulai:

  • tidak lagi seragam,
  • dibentuk oleh kebutuhan masing-masing orang,
  • kehilangan keketatannya.

Benediktus XIV sendiri kecewa dan menyebut umat pada masa itu sebagai “lukewarm”—anget-anget kuku, kurang greget.

3. Paus Paulus VI (1966)

Melalui Konstitusi Apostolik Paenitemini, Paus Paulus VI secara drastis menyederhanakan aturan puasa.

Perubahannya:

  • Puasa penuh hanya wajib dua kali setahun:
    • Rabu Abu
    • Jumat Agung
  • Pantang daging hanya pada hari Jumat selama Prapaskah.

Dengan demikian, disiplin kuno “Black Fast” secara praktis dihapus dan digantikan dengan anjuran moral yang lebih fleksibel.

Refleksi: Dari Disiplin Keras ke Spiritualitas Fleksibel

Perubahan ini mencerminkan upaya Gereja menyesuaikan diri dengan umat modern yang:

  • lebih sibuk,
  • lebih sensitif terhadap kesehatan,
  • lebih sulit menjalani disiplin asketis tradisional.

Namun banyak yang berpendapat bahwa puasa keras justru memberikan:

  • keteguhan batin,
  • kejernihan spiritual,
  • kebahagiaan tubuh,
  • dan kebebasan dari keinginan ego.

Tak heran, sebagian umat yang lahir sebelum 1966 masih menjalankan puasa dalam gaya lama.


Sumber Referensi

  1. Catholic Encyclopedia: Lent – sejarah Black Fast dan lacticinia
  2. History of Fasting – Catholic.com
  3. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Q147
  4. Paenitemini (1966) – Paus Paulus VI
  5. Non Ambigimus (1741) – Paus Benediktus XIV
  6. Britannica: Mardi Gras

Disadur dari sebaran WhatsApp Group.

Lainnya

Mengenal Allah Dalam Devosi

Oleh Frans  P. Liwun Bagaimana orang dapat mengenal Allah? Sedangkan Allah itu tidak bisa kita lihat dan diraba. Lalu ‘siapakah Allah itu sebenarnya?’ Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab walaupun dengan logika yang jelas, jika tanpa menyertakan iman. Oleh karena...

Bekerja Dalam Terang Jalan, Kebenaran dan Hidup

Oleh  Frans  P. Liwun Setiap tanggal 1 Mei, Pemerintah menetapkan sebagai Hari Buruh Nasional dan bertepatan dengan hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan makna kerja melalui pribadi Santo Yusuf Pekerja, sekaligus memulai berdevosi rosario pada Bulan Maria....

Per Mariam Ad Jesum: Melalui Maria Menuju Yesus

Oleh Frans P. Liwun Bulan Mei ini, Gereja Katolik mengajak kita untuk menghormati Bunda Maria melalui devosi rosario. Pada kesempatan ini umat secara pribadi atau  bersama umat lain untuk berdoa rosario. Ijinkan saya sedikit mengisahkan pengalaman waktu saya dan...

Jeritan yang Tak Dijawab: Wajah Kesepian dalam Penderitaan Yesus

Oleh : T.H. Hari Sucahyo* Seruan itu “Eloi, Eloi, lama sabachthani?” bergema melampaui waktu, melampaui teologi, melampaui batas-batas bahasa manusia yang terbatas. Ia bukan sekadar kutipan dari mazmur, bukan pula hanya penggenapan nubuat, melainkan jeritan paling...

Gembala Meninggalkan Domba: Tanggapan Bijak Seorang Umat

Ketika hari mulai berakhir dan akan berganti, matahari mulai terbenam, tersiarlah kabar yang mengejutkan. Bukan sebuah penemuan, melainkan pengakhiran. Gembala yang baik, sabar, penuntun arah dombanya yang pelan-pelan menuju kemajuan kandangnya, meninggalkan kawanan...

Hari Orang Sakit Sedunia 2026

Pesan Paus Leo XIV - HOSS 2026 : Klik Disini Liturgi Misa HOSS 2026 : Klik Disini Komuni Orang Sakit : Klik Disini

Doa Keluarga Tahun Pastoral 2026 Keuskupan Sufragan Bogor

Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga. Dari kisah Kitab Suci Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Maria dan Yosef memberikan keteladan ketaatan total kepada kehendak-Mu, Keluarga Zakharia dan Elisabeth memberikan keteladanan kesabaran...

Sejarah Kalender Masehi: Dari Gereja untuk Dunia

Kalender adalah sistem penyusunan yang berfungsi untuk membagi aliran waktu yang berkelanjutan menjadi periode terukur seperti hari, minggu, bulan, dan tahun, di mana penentuan periode ini umumnya didasarkan pada siklus astronomi seperti revolusi Bumi mengelilingi...

Kedatangan Relikui Santo Ignatius Loyola di Semplak

Relikui diambil dari bahasa Latin “reliquiae” yang berarti peninggalan. Jadi, relikui adalah benda-benda peninggalan dari orang yang dianggap kudus. Sejak pembaptisan tubuh kita menjadi Bait Allah, yang berarti tempat dimana Allah berdiam (bdk. 1 Korintus 3:16). Dalam...