(Gambar: Daniele Crespi (1598-1630), “The Supper of St. Charles Borromeo”)
Tradisi puasa dalam Gereja Katolik memiliki perjalanan panjang yang menarik. Banyak umat mungkin tidak mengetahui bahwa sebelum abad ke-13, Gereja menjalankan pola puasa yang sangat ketat yang dikenal dengan nama Black Fast. Praktik ini bukan sekadar diet rohani, tetapi sebuah laku asketis yang membentuk disiplin tubuh dan jiwa.
Artikel ini merangkum sejarah, aturan, perubahan, hingga fakta-fakta unik seputar puasa Katolik dari masa ke masa.
Apa Itu Black Fast?
Sebelum abad ke-13, umat Katolik menjalankan puasa yang sangat ketat selama masa Prapaskah. Pola puasanya memiliki beberapa ciri utama:
1. Makan Sekali Sehari
Black Fast mengharuskan umat hanya makan satu kali dalam sehari, biasanya setelah ibadah Vesper (sekitar pukul 15.00). Bila memakai istilah modern, pola ini mirip OMAD—One Meal A Day.
Masa makan hanya berlangsung sekitar 60 menit, bahkan ada yang hanya 30 menit. Setelah itu mulut “dikunci” kembali hingga esok hari.
2. Pantangan Selama 40 Hari
Selama masa Prapaskah, umat dilarang mengonsumsi:
- Daging: semua makhluk bernyawa.
- Lacticinia: produk hewani seperti telur, susu, keju, dan mentega.
- Lemak hewani: termasuk menumis dengan tallow, lard, atau butter.
Memasak hanya diperbolehkan menggunakan minyak nabati seperti minyak zaitun.
3. Waktu Buka Puasa
Buka puasa dilakukan setelah ibadah Vesper, yang dalam biara-biara ketat dijalankan pada pukul 15.00, mengenang saat wafatnya Kristus.
4. Disiplin Tambahan: Pantang Hiburan & Hening
Selain pantangan makanan, umat juga didorong untuk:
- Tidak minum minuman rekreasional: kopi, teh manis, alkohol.
- Pantang hiburan: tidak menonton, tidak mendengarkan musik, tidak bersosial media (analoginya di zaman modern).
- Menjalani keheningan dan meningkatkan waktu refleksi.
5. Puasa Xerofagi bagi Peniten
Bagi umat yang ingin melakukan tobat lebih serius, dikenal praktik Xerofagi—makan makanan kering dan sederhana seperti:
- roti gandum kasar
- sayuran rebus tanpa bumbu
- buah kering
- air putih
Tradisi ini mirip mutih atau ngrowot dalam budaya Jawa: benar-benar laku prihatin.
Semua ini dimaksudkan untuk meneladani 40 hari Yesus berpuasa di padang gurun.

Catatan Sejarah Penting
1. Makna 40 Hari
Puasa Yesus di padang gurun terjadi sesaat setelah Ia dibaptis—sebuah masa persiapan besar sebelum Ia memulai pelayanan publik.
2. Retaknya Disiplin Puasa di Abad ke-13
Pola puasa ketat mulai mengalami pelonggaran akibat perkembangan teologi, terutama pemikiran Thomas Aquinas.
3. Mardi Gras: Pesta Sebelum Puasa
Larangan mengonsumsi telur dan produk susu menjadi alasan munculnya tradisi Mardi Gras (Selasa Lemak)—hari untuk menghabiskan stok lemak sebelum memasuki Prapaskah.
Perubahan Aturan Puasa: Tiga Tokoh Utama
Sepanjang sejarah, ada tiga figur Gereja yang membuat perubahan besar terhadap disiplin puasa.
1. Thomas Aquinas (Abad ke-13)
Thomas Aquinas membuka “celah teologis” lewat prinsip terkenal:
“Liquidum non frangit jejunium” – Cairan tidak membatalkan puasa.
Awalnya pernyataan ini dimaksudkan agar umat tidak bingung mengenai hidrasi. Namun dalam praktik, umat mulai memasukkan minuman berkalori seperti kopi dan cokelat panas ke dalam masa puasa.
Dari sinilah tradisi minum minuman selain air selama puasa mulai diperbolehkan.
2. Paus Benediktus XIV (1741)
Pada abad ke-18, keluhan umat makin banyak:
- “Kami kerja fisik, berat lho…”
- “Nutrisi minim selama 40 hari tidak sehat…”
Melalui ensiklik Non Ambigimus, Gereja memberikan dispensasi bagi umat tertentu untuk makan daging selama Prapaskah.
Ini menjadi titik di mana puasa mulai:
- tidak lagi seragam,
- dibentuk oleh kebutuhan masing-masing orang,
- kehilangan keketatannya.
Benediktus XIV sendiri kecewa dan menyebut umat pada masa itu sebagai “lukewarm”—anget-anget kuku, kurang greget.
3. Paus Paulus VI (1966)
Melalui Konstitusi Apostolik Paenitemini, Paus Paulus VI secara drastis menyederhanakan aturan puasa.
Perubahannya:
- Puasa penuh hanya wajib dua kali setahun:
- Rabu Abu
- Jumat Agung
- Pantang daging hanya pada hari Jumat selama Prapaskah.
Dengan demikian, disiplin kuno “Black Fast” secara praktis dihapus dan digantikan dengan anjuran moral yang lebih fleksibel.
Refleksi: Dari Disiplin Keras ke Spiritualitas Fleksibel
Perubahan ini mencerminkan upaya Gereja menyesuaikan diri dengan umat modern yang:
- lebih sibuk,
- lebih sensitif terhadap kesehatan,
- lebih sulit menjalani disiplin asketis tradisional.
Namun banyak yang berpendapat bahwa puasa keras justru memberikan:
- keteguhan batin,
- kejernihan spiritual,
- kebahagiaan tubuh,
- dan kebebasan dari keinginan ego.
Tak heran, sebagian umat yang lahir sebelum 1966 masih menjalankan puasa dalam gaya lama.
Sumber Referensi
- Catholic Encyclopedia: Lent – sejarah Black Fast dan lacticinia
- History of Fasting – Catholic.com
- Thomas Aquinas, Summa Theologica, Q147
- Paenitemini (1966) – Paus Paulus VI
- Non Ambigimus (1741) – Paus Benediktus XIV
- Britannica: Mardi Gras
Disadur dari sebaran WhatsApp Group.

Administrator Website Paroki Stiglo Semplak Bogor
