Sejarah Kalender Masehi: Dari Gereja untuk Dunia

by | Dec 6, 2025 | Artikel

Kalender adalah sistem penyusunan yang berfungsi untuk membagi aliran waktu yang berkelanjutan menjadi periode terukur seperti hari, minggu, bulan, dan tahun, di mana penentuan periode ini umumnya didasarkan pada siklus astronomi seperti revolusi Bumi mengelilingi Matahari (kalender surya) atau fase Bulan (kalender lunar). Sebagai alat pengorganisasian yang vital, kalender memungkinkan peradaban untuk melakukan penjadwalan, menandai hari-hari keagamaan dan perayaan, serta mengatur aktivitas penting seperti pertanian, menjadikan Kalender Masehi sebagai sistem surya yang paling banyak digunakan secara global untuk keperluan sipil dan administrasi.

Apa itu Kalender Masehi?

Kalender Masehi adalah sistem tahun yang lahir dari kesalahan kalender Julius. Penghitungan pada Masehi adalah siklus revolusi bumi mengelilingi matahari. Kalender ini terdiri dari 12 bulan dan 365,25 hari. Kalender Gregorius atau Gregorian tetapi banyak dikenal sebagai Kalender Masehi merupakan kalender standar secara global dalam keperluan apapun.

Hubungan Gereja Katolik dengan penciptaan Kalender Masehi

Kalender Masehi adalah revisi dari Kalender Julian yang telah berkembang lama di zaman Romawi. Gereja Katolik melalui Uskup Roma mengeluarkan bulla kepausan Inter Gravissimas pada 24 Februari 1582. Tujuan melakukan reformasi untuk memperbaiki kesalahan pada kalender Julius. Misalnya, perayaan tri hari suci Paskah akan diselaraskan kembali kepada musim semi.

Paus Gregorius XIII, tokoh sentral dalam reformasi Kalender, membentuk tim yang terdiri para anstronom dan matematikawan untuk merancang kalender. Dalam kalender Gregorian, penambahan hari setiap 4 tahun sekali dihapuskan, dan sistem kabisat berlaku empat tahun sekali kecuali tahun yang tidak habis dibagi 400. Jadi, tahun kabisat terjadi pada tahun 2000, tetapi tidak pada tahun 1900, 1800, atau 1700. Kesalahan kalender Julius adalah terdapat pada tahun kabisat yang menyebabkan pergeseran tanggal Paskah selama berabad-abad. Selain penetapan tahun kabisat, Gereja pada saat itu juga memotong 10 hari dari kalender Julius karena ketidaktepatan perhitungan musim yaitu pada Kamis, 4 Oktober 1582 sampai Jumat, 15 Oktober 1582. Pada saat itu juga, 10 hari dihilangkan untuk menyesuaikan pada siklus matahari. Paus pada saat itu juga ‘menyelipkan’ kelahiran Yesus Kristus sebagai titik awal penanggalan Masehi.

Pro dan Kontra Terhadap Kalender Gregorius

Ketika Paus mengumumkan terjadi gejolak diberbagai belahan dunia, seperti negara-negara Eropa dan Rusia. Pasalnya, banyak masyarakat kehilangan 10 harinya dan menyebabkan kerugian melalui kontrak-kontrak atau perjanjian yang terpotong.

Di belahan Eropa yang berada di kalangan Katolik mulai beradaptasi dengan Kalender Gregorius. Namun, negara-negara Eropa yang berlatar Protestan, meragukan otoritas Gereja dan memicu kontroversi. Sebab, pada abad itu pula terjadi Reformasi Gereja yang menyebabkan terpecahnya kepercayaan kepada hierarki Gereja.

Namun, berabad-abad berlalu, banyak negara menggunakan kalender Masehi sebagai sistem standar penanggalan nasional. Tetapi, terdapat pula di belahan dunia masih menggunakan kalender Julius, seperti beberapa bagian di Rusia menggunakan kalender Julian karena mempertahankan tradisi Ortodoks.

Referensi:

https://www.merdeka.com/gaya/10-hari-yang-hilang-dari-sejarah-perubahan-dari-kalender-julian-ke-gregorian-pada-penanggalan-masehi-197764-mvk.html?page=4

www.detik.com/edu/detikpedia/d-7712089/begini-awal-mula-penetapan-kalender-masehi-siapa-pencetusnya/amp

https://www.timeanddate.com/calendar/julian-gregorian

Lainnya

Mengenal Allah Dalam Devosi

Oleh Frans  P. Liwun Bagaimana orang dapat mengenal Allah? Sedangkan Allah itu tidak bisa kita lihat dan diraba. Lalu ‘siapakah Allah itu sebenarnya?’ Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab walaupun dengan logika yang jelas, jika tanpa menyertakan iman. Oleh karena...

Bekerja Dalam Terang Jalan, Kebenaran dan Hidup

Oleh  Frans  P. Liwun Setiap tanggal 1 Mei, Pemerintah menetapkan sebagai Hari Buruh Nasional dan bertepatan dengan hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan makna kerja melalui pribadi Santo Yusuf Pekerja, sekaligus memulai berdevosi rosario pada Bulan Maria....

Per Mariam Ad Jesum: Melalui Maria Menuju Yesus

Oleh Frans P. Liwun Bulan Mei ini, Gereja Katolik mengajak kita untuk menghormati Bunda Maria melalui devosi rosario. Pada kesempatan ini umat secara pribadi atau  bersama umat lain untuk berdoa rosario. Ijinkan saya sedikit mengisahkan pengalaman waktu saya dan...

Jeritan yang Tak Dijawab: Wajah Kesepian dalam Penderitaan Yesus

Oleh : T.H. Hari Sucahyo* Seruan itu “Eloi, Eloi, lama sabachthani?” bergema melampaui waktu, melampaui teologi, melampaui batas-batas bahasa manusia yang terbatas. Ia bukan sekadar kutipan dari mazmur, bukan pula hanya penggenapan nubuat, melainkan jeritan paling...

Gembala Meninggalkan Domba: Tanggapan Bijak Seorang Umat

Ketika hari mulai berakhir dan akan berganti, matahari mulai terbenam, tersiarlah kabar yang mengejutkan. Bukan sebuah penemuan, melainkan pengakhiran. Gembala yang baik, sabar, penuntun arah dombanya yang pelan-pelan menuju kemajuan kandangnya, meninggalkan kawanan...

Sejarah Puasa Katolik: Dari “Black Fast” hingga Aturan Modern

(Gambar: Daniele Crespi (1598-1630), “The Supper of St. Charles Borromeo”) Tradisi puasa dalam Gereja Katolik memiliki perjalanan panjang yang menarik. Banyak umat mungkin tidak mengetahui bahwa sebelum abad ke-13, Gereja menjalankan pola puasa yang sangat ketat yang...

Hari Orang Sakit Sedunia 2026

Pesan Paus Leo XIV - HOSS 2026 : Klik Disini Liturgi Misa HOSS 2026 : Klik Disini Komuni Orang Sakit : Klik Disini

Doa Keluarga Tahun Pastoral 2026 Keuskupan Sufragan Bogor

Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga. Dari kisah Kitab Suci Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Maria dan Yosef memberikan keteladan ketaatan total kepada kehendak-Mu, Keluarga Zakharia dan Elisabeth memberikan keteladanan kesabaran...

Kedatangan Relikui Santo Ignatius Loyola di Semplak

Relikui diambil dari bahasa Latin “reliquiae” yang berarti peninggalan. Jadi, relikui adalah benda-benda peninggalan dari orang yang dianggap kudus. Sejak pembaptisan tubuh kita menjadi Bait Allah, yang berarti tempat dimana Allah berdiam (bdk. 1 Korintus 3:16). Dalam...