Per Mariam Ad Jesum: Melalui Maria Menuju Yesus

by | May 1, 2026 | Artikel, Signal

Oleh Frans P. Liwun

Bulan Mei ini, Gereja Katolik mengajak kita untuk menghormati Bunda Maria melalui devosi rosario. Pada kesempatan ini umat secara pribadi atau  bersama umat lain untuk berdoa rosario. Ijinkan saya sedikit mengisahkan pengalaman waktu saya dan saudara Magnus bertugas KKN di Pulau Palue (utara Pulau Flores). Di  pulau itu semuanya umat katolik yang terdiri dari dua paroki yakni Paroki  Uwa dan Paroki Lei; dan kedua paroki tersebut tidak ada imam untuk mempersembahkan perayaan ekaristi. Dan umat di pulau ini menunjukkan iman katolik yang militan dengan hanya berdoa rosario dari rumah ke rumah, namun pada saat tutup bulan rosario (Mei dan Oktober) semua dari dua paroki itu berarak ke Pantai Paroki Uwa untuk berdoa bersama, syukur-syukur kalau ada ada imamnya; setelah selesai berdoa bersama  panji Bunda Maria diarak kembali ke tempat mereka masing-masing. Kebiasaan umat Palue ini mengajak kita pada bulan Maria dan bulan Rosario selalu menjadi momen istimewa bagi umat Katolik yang setia berdevosi kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario. Kadang kita rindu momen-momen seperti ini, memang sederhana tetapi sangat berkesan dan membekas apalagi dijalankan secara rutin dalam keluarga dan lingkungan.

Sebagai orang Katolik, Devosi kepada Bunda Maria dalam doa rosario sudah menjadi bagian dari hidup kita yang merupakan tradisi ini sudah diajarkan secara turun temurun sejak kita kecil.  Namun, hati kecil selalu bertanya dalam diri: apa makna sesungguhnya dibalik devosi kita kepada Bunda Maria ? Kenapa kita perlu berdoa rosario, kenapa kita menghormati Bunda Maria ? Pertanyaan yang sama juga ditunjukkan untuk kita guna direfleksikan. Seandainya orang bertanya kepada kita: bagaimana kita menjelaskan iman kita saat berhadapan dengan pertanyaan seperti ini. 

Dari pengalaman dulu saya berdoa rosario karena mengikuti teladan orangtua (ibu saya), tidak mengerti juga kenapa berdevosi itu dan pada saat SMA kelas 2 saya menemukan patung Bunda Maria dengan tangan terbuka dari perak; namun belum mengetahui juga apa makna doa rosario itu. Setelah tamat SMA patung yang ditemukan  itu hilang dan melanjutkan belajar pada Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang. Dan pada tahun pertama (sekitar Oktober) ditemukan lagi patung yang sama persis (saat di Larantuka). Sesudah mendapat banyak ilmu dan belajar Kitab Suci, Dogma  serta Teologi, akhirnya saya paham bahwa Bunda Maria, Bunda Yesus Kristus punya tempat yang istimewa dalam Gereja Katolik. Dan patung kecil itu hilang di Jakarta, saat kontrakan kami kebakaran namun sampai pada kamar kontrakan kami, api langsung padam.

Hal ini mengingatkan akan semboyan teologis Katolik pada judul artikel ini yang berarti ” Melalui Maria Menuju Yesus(Per Mariam Ad Jesum)“. Semboyan ini menegaskan bahwa peran Bunda Maria sebagai perantara yang membawa umat kepada Yesus Sang Juruselamat, bukan tujuan akhir penyembahan. Maria dihormati (bukan disembah) karena ketaatannya kepada Allah yang menghadirkan Yesus sebagai Putera Allah ke dalam dunia.  Dan apa poin-poin utama dari semboyan ” Melalui Maria Menuju Yesus(Per Mariam Ad Jesum)” tersebut dapat dipahami dari:  – segi makna teologis,  bahwa ungkapan ini berarti melalui Bunda Maria kita sampai pada Yesus, Sang Juru Selamat. Atau sering kita kenal pada tulisan kain altar istilah IHS (Iesus Hominum Salvator artinya Yesus Juruselamat Manusia). Untuk mempertegas makna tersebut, silahkan membaca Kitab Suci (Matius 1:21,  Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, Roma 5:8 ). – segi Devosi Maria,Umat Katolik berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus, namun melalui perantaraan doa Bunda Maria, mirip dengan meminta teman untuk mendoakan kita. Ingat peristiwa pesta perkawinan di Kana, dimana  Yesus mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11) peristiwa itu mengingat kita bahwa kita meminta bantuan Bunda Maria, seperti kita meminta bantuan teman atau orang lain.  – segi Teladan Iman, Maria adalah model/teladan sejati dalam mengikut Kristus, menunjukkan jalan kepada Yesus dan bukan kepada dirinya sendiri. Ingat jawaban Maria atas tawaran Allah “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (lih Lukas 1: 38). Ungkapan ini melambangkan penyerahan diri secara total, ketaatan, dan kepasrahan atas rencana Tuhan dan ungkapan Maria tersebut menunjukkan perannya sebagai Bunda Allah (Theotokos) yang membawa Yesus Kristus ke dunia; seperti dalam ungkapan doa Bapa Kami “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” ( lih Matius 6: 10). Sehingga doa Salam Maria selalu didaraskan bersamaan dengan doa Bapa Kami.

Di mana saya beriman kepada Tuhan Yesus Kristus yang dihadirkan dalam dunia melalui Bunda Maria lewat peristiwa kelahiran. Untuk itulah saya ajak semua kita menghormatinya dalam devosi, banyak kelompok lain mengatakan bahwa kita menyembah Bunda Maria. Bukan Tuhan yang disembah. Itu merupakan pandangan yang keliru. Kita tidak menyembah Bunda Maria, kita menghormati Bunda Maria sebagai perantara kita kepada Yesus Kristus puteranya, yang kita sembah sebagai Tuhan dan Juruselamat. Lalu muncul pertanyaan lain: orang Katolik membuat patung Bunda Maria dan menyimpannya serta berdoa di depan patung tersebut, berarti mereka menyembah berhala. Ingat umat katolik tidak menyembah berhala seperti yang mereka pikirkan. Tujuan doa kita itu kepada Tuhan, bukanlah kepada patung tersebut. Patung dibuat, agar lebih mudah mengingat akan tokoh atau pribadi yang dilukiskan itu. Patung atau gambar yang dibuat itu dapat dibandingkan dengan selembar foto seorang bapak, ibu atau anak, yang sangat dikasihi kita, dan foto itu sering di bawa ke mana saja dirinya pergi, sebagai ungkapan cinta dan kedekatan serta ikatan batin kita dengan pribadi yang bersangkutan. Demikian juga patung Maria yang dibuat, mau menunjukan kedekatan kita dengan Bunda Maria, dan mempermudah mengingat pribadinya sebagai ibu yang mengasihi dan siap menolong kita.

Mengapa Gereja Katolik sangat menghormati Bunda Maria? Dasar penghormatan Gereja Katolik terhadap Bunda Maria sangat Alkitabiah. Seperti yang sudah digambarkan di atas. Hal itu dijumpai ketika Malaikat Gabriel yang diutus Allah, yang merupakan juru bicara Allah datang bertemu dengan Maria, dan menyampaikan kabar dengan suatu sapaan yang begitu terhormat: “Salam hai Engkau yang dikaruniai” (Luk. 1:28); bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (lih Matius 1:21). Jawaban Maria atas tawaran Allah tersebut penuh resiko, khususnya dalam status sosial. Sapaan itu adalah suatu tanda penghormatan yang istimewa dari Allah terhadap Bunda Maria. Meskipun perkataan itu keluar dari mulut Malaikat Gabriel, tetapi sesungguhnya sapaan ini adalah sapaan Allah sendiri, yang diucapkan-Nya melalui utusan-Nya. Sapaan tersebut juga menunjukan bahwa Allah begitu menghormati segala ciptaan-Nya. Termasuk manusia, dan Maria adalah ciptaan yang paling sempurna. Di mana Allah menjaga dan melindungi secara khusus, sehingga Maria hadir tanpa noda sedikit pun sejak dari dalam kandungan. Ia tetap Perawan (lih Dogma 1854). 

Maria adalah seorang gadis desa dari Nazareth yang sederhana dan yang bersahaja seperti gadis Nazareth pada umumnya. Semua orang tidak pernah mengetahui, bahwa ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Putera Allah. Orang hanya mengetahui, bahwa ia adalah seorang yang saleh. Hidupnya sangat tersembunyi dalam kesederhanaannya, ia hidup tanpa noda dosa, sejak dari dalam kandungan ibunya. Ia sungguh hidup sempurna, karena Allah sendiri yang menjaga dia. Kesempurnaan Maria juga terletak dalam penyerahannya yang total terhadap kehendak Allah. “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” merupakan suatu jawaban yang menunjukan kesempurnaan Maria dalam menerima dan mau melakukan kehendak Allah. Semua kita dapat melihat ini dengan jelas dalam Firman Tuhan. Maria bersatu kembali dengan Allah, “Jiwaku memuji Tuhan, dan rohku bersukacita di dalam Allah, Juruselamatku” (Lukas 1:46-47). Hanya orang berdosa yang membutuhkan Juruselamat. Jika Anda dilahirkan tanpa dosa, Anda tidak membutuhkan Juruselamat (lih Roma 3:10).

Keterpilihan Maria oleh Allah, untuk melahirkan Yesus sebagai Anak Allah menjadikan Maria sebagai Bunda Allah, Theotokos atau Maria Mater Dei, yang dipertegas dalam Konsili Efesus (431). Juga memberi gelar Maria sebagai Bunda Allah atau Theotokos didasarkan pada pribadi Yesus sebagai Anak Allah. Yesus lahir dari Maria bukan hanya sebagai manusia saja, tetapi sekaligus Allah.  Sejak Maria diangkat dan diberi gelar oleh Gereja sebagai Bunda Allah, maka devosi kepada Maria sangat berkembang. Banyak umat Allah yang memohon doa kepada Tuhan melalui Bunda Maria. Seperti doa Rosario, Novena tiga kali Salam Maria dan juga Gereja mengajak umat untuk Ibadat hari Sabtu yang secara khusus dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria serta ibadat-ibadat lain untuk mengenang jasa Maria bagi Gereja. Yang kita kenal Bunda Gereja. Karena Bunda Maria telah diberikan Allah kepada Gereja dan diberi tempat yang istimewa, maka tugas Maria dalam Gereja adalah mendoakan dan melindungi Gereja yang masih dalam perziarahan menuju Bapa.

Gereja Katolik berdevosi kepada Maria, bukan berarti Maria menjadi perantara kepada Bapa atau mengambil alih peran Yesus. Sama sekali tidak demikian, Yesus tetap menjadi perantara satu-satunya kepada Bapa. Gereja Katolik berdevosi kepada Maria, karena Maria adalah ciptaan Allah yang sempurna dan sangat dekat dengan Allah dan kepada kita anak-anaknya. Maria adalah rekan perantara (Co-Mediatriks) Allah kepada manusia, dalam Yesus Kristus. Kita memperoleh berkat dari Allah melalui Maria dalam Yesus Kristus. Ia hidup dan menjadi Bunda Gereja.  Ia adalah penolong kita (Avokata Nostra) dalam bahaya. Banyak kita mendengar kesaksian, bagaimana doa yang dipanjatkan dengan perantaraan Bunda Maria terkabul. Ini berarti doa Bunda Maria sangat berkenan kepada Allah  (bdk Yohanes 2:1-11). Bagi orang Katolik, Bunda Maria adalah teladan sejati (seperti diungkapkan di atas) menjadi murid Kristus berarti kita pun berusaha meniru sikap Bunda Maria. Berdoa bersama Bunda Maria dengan demikian adalah salah satu usaha untuk semakin serupa dengan Yesus Kristus. Bila kita berdoa bersama Bunda Maria, berarti kita sedang berdoa bersama orang yang paling dekat dengan Tuhan Yesus. Sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan Yesus, Bunda Maria tahu masalah dan kebutuhan kita maka kita dituntut cara berdoa yang baik dan benar.  Bunda Maria pernah mengalami suka dan duka hidup, beliau tahu saatnya dan cara menyampaikan semua permasalahan dan kebutuhan kita kepada Tuhan Yesus, karena beliau istimewa.

Bunda Maria menjadi perantara kita menuju Yesus, maka kita pun perlu melakukan seperti itu kepada sesama kita, pertanyaannya adalah apakah dalam hidup, kita telah mampu menjadi perantara bagi orang lain untuk menuju kepada Yesus? Ingat! Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini merupakan pelayanan dan keberadaan kita sebagai manusia haruslah menunjukkan Homo homini socius (manusia adalah kawan bagi sesamanya), yang menekankan kerja sama dan solidaritas yang dapat membuat orang lain merasa dekat dengan Yesus, membuat mereka semakin mengenal Kristus. Dengan demikian devosi kita semakin diyakini dan disadari bahwa kita yang berkumpul pada devosi merupakan perjuangan untuk menjadi pribadi yang berguna untuk orang lain, pribadi yang dapat menjadi saluran cinta kasih dari Allah untuk sesama. Maka hidup menjadi orang Katolik adalah sebuah kebanggaan bagi hidup kita, karena dengan tindakan itu, kita dapat mencerminkan wajah Yesus yang kita imani. Yesus yang berbelas kasih, Yesus yang solider dengan sesama, Yesus yang mencintai dengan segenap hati serta Yesus yang rela berkorban demi keselamatan kita manusia dalam iman bersama. Itulah tugas utama kita sebagai pengikut Kristus selalu meneladani semangat hidup Bunda Maria yang kita hormati selama bulan Mei dan Oktober. Semoga kerendahan hati, kesediaan dan cinta kasih yang Bunda Maria tunjukkan kepada kita dapat kita wujudkan dalam hidup kita sehari-hari baik dalam keluarga sebagai orangtua dan anak maupun di tengah lingkungan tempat kita berada sebagai anggota masyarakat. Dan semoga artikel ini membuka wawasan kita serta mampu berdevosi dengan baik; juga menjadi saluran kasih bagi sesama dengan membantu orang lain untuk menemukan kedamaian dalam diri Yesus Kristus. Selamat berdevosi Rosario.

Lainnya

Mengenal Allah Dalam Devosi

Oleh Frans  P. Liwun Bagaimana orang dapat mengenal Allah? Sedangkan Allah itu tidak bisa kita lihat dan diraba. Lalu ‘siapakah Allah itu sebenarnya?’ Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab walaupun dengan logika yang jelas, jika tanpa menyertakan iman. Oleh karena...

Bekerja Dalam Terang Jalan, Kebenaran dan Hidup

Oleh  Frans  P. Liwun Setiap tanggal 1 Mei, Pemerintah menetapkan sebagai Hari Buruh Nasional dan bertepatan dengan hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan makna kerja melalui pribadi Santo Yusuf Pekerja, sekaligus memulai berdevosi rosario pada Bulan Maria....

Jeritan yang Tak Dijawab: Wajah Kesepian dalam Penderitaan Yesus

Oleh : T.H. Hari Sucahyo* Seruan itu “Eloi, Eloi, lama sabachthani?” bergema melampaui waktu, melampaui teologi, melampaui batas-batas bahasa manusia yang terbatas. Ia bukan sekadar kutipan dari mazmur, bukan pula hanya penggenapan nubuat, melainkan jeritan paling...

Gembala Meninggalkan Domba: Tanggapan Bijak Seorang Umat

Ketika hari mulai berakhir dan akan berganti, matahari mulai terbenam, tersiarlah kabar yang mengejutkan. Bukan sebuah penemuan, melainkan pengakhiran. Gembala yang baik, sabar, penuntun arah dombanya yang pelan-pelan menuju kemajuan kandangnya, meninggalkan kawanan...

Sejarah Puasa Katolik: Dari “Black Fast” hingga Aturan Modern

(Gambar: Daniele Crespi (1598-1630), “The Supper of St. Charles Borromeo”) Tradisi puasa dalam Gereja Katolik memiliki perjalanan panjang yang menarik. Banyak umat mungkin tidak mengetahui bahwa sebelum abad ke-13, Gereja menjalankan pola puasa yang sangat ketat yang...

Hari Orang Sakit Sedunia 2026

Pesan Paus Leo XIV - HOSS 2026 : Klik Disini Liturgi Misa HOSS 2026 : Klik Disini Komuni Orang Sakit : Klik Disini

Doa Keluarga Tahun Pastoral 2026 Keuskupan Sufragan Bogor

Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga. Dari kisah Kitab Suci Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Maria dan Yosef memberikan keteladan ketaatan total kepada kehendak-Mu, Keluarga Zakharia dan Elisabeth memberikan keteladanan kesabaran...

Sejarah Kalender Masehi: Dari Gereja untuk Dunia

Kalender adalah sistem penyusunan yang berfungsi untuk membagi aliran waktu yang berkelanjutan menjadi periode terukur seperti hari, minggu, bulan, dan tahun, di mana penentuan periode ini umumnya didasarkan pada siklus astronomi seperti revolusi Bumi mengelilingi...

Kedatangan Relikui Santo Ignatius Loyola di Semplak

Relikui diambil dari bahasa Latin “reliquiae” yang berarti peninggalan. Jadi, relikui adalah benda-benda peninggalan dari orang yang dianggap kudus. Sejak pembaptisan tubuh kita menjadi Bait Allah, yang berarti tempat dimana Allah berdiam (bdk. 1 Korintus 3:16). Dalam...