Mengenang Paus Fransiskus: Menghidupi Salib, Menyebarkan Kasih yang Menyelamatkan

by | May 11, 2026 | Artikel, Signal

Oleh: T.H. Hari Sucahyo*
Foto: www.dioceseofnottingham.uk

Peringatan satu tahun wafatnya Paus Fransiskus, tepatnya 21 April 2026, datang bukan hanya sebagai penanda waktu, melainkan sebagai ruang hening untuk mengingat kembali cara seorang manusia memaknai penderitaan. Ada sesuatu yang menggugah ketika mengingat bahwa di balik senyum lembut dan sapaan hangatnya, tersimpan pergulatan fisik yang tidak ringan.

Kekurangan oksigen yang kerap ia alami bukan sekadar kondisi medis, melainkan pengalaman eksistensial; sebuah rasa tercekik yang bagi banyak orang hanya bisa dibayangkan lewat momen ekstrem seperti hampir tenggelam atau terserang penyakit ketinggian. Namun bagi dirinya, itu adalah bagian dari keseharian, sesuatu yang ia sambut setiap pagi dengan kesadaran penuh, bukan sebagai kutukan, tetapi sebagai panggilan.

Dalam dunia yang begitu cepat menolak rasa sakit, kita cenderung melihat penderitaan sebagai sesuatu yang harus dihindari, dilawan, atau setidaknya disembunyikan. Kita mengukur keberhasilan hidup dari seberapa jauh kita bisa menjauh dari rasa tidak nyaman. Tetapi Paus Fransiskus menawarkan narasi yang berbeda, bahwa penderitaan tidak selalu harus dihapuskan untuk menjadi bermakna. Ia menunjukkan bahwa ada cara lain untuk hidup berdampingan dengan luka, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai guru yang sunyi.

Bukan berarti ia meromantisasi penderitaan. Tidak ada yang indah dari sesak napas atau tubuh yang melemah. Namun yang membuatnya berbeda adalah cara ia mengintegrasikan pengalaman itu ke dalam panggilan hidupnya. Ia tidak membiarkan rasa sakit mereduksi dirinya menjadi sekadar korban keadaan. Sebaliknya, ia mengolahnya menjadi empati yang hidup, menjadi kemampuan untuk melihat orang lain bukan dari posisi kekuatan, melainkan dari kedalaman luka yang dipahami.

Barangkali di situlah letak kekuatan yang paling jarang kita sadari: kemampuan untuk tetap memandang dunia dengan kasih, bahkan ketika tubuh sendiri sedang berjuang. Fransiskus tidak menjadikan penderitaannya sebagai alasan untuk menarik diri dari dunia, tetapi justru sebagai jembatan untuk lebih dekat dengan manusia lain. Ia berbicara kepada mereka yang tersingkir, menyapa mereka yang dilupakan, dan memandang setiap orang dengan keyakinan yang hampir radikal, bahwa tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan kasih Tuhan.

Keyakinan ini bukan sesuatu yang mudah diterima. Bahkan dalam tradisi iman sendiri, gagasan bahwa setiap orang dikasihi tanpa syarat sering kali menimbulkan ketegangan. Kita terbiasa dengan logika keadilan yang menuntut keseimbangan: yang baik diberi ganjaran, yang salah dihukum. Tetapi Fransiskus, seperti gurunya Yesus Kristus, berbicara dalam bahasa yang berbeda; bahasa belas kasih yang melampaui perhitungan manusia.

Ketika dalam Injil, khususnya dalam kisah di Injil Markus, Yesus berkata kepada seorang lumpuh, “dosamu telah diampuni,” sebelum menyembuhkan tubuhnya, reaksi yang muncul adalah keterkejutan, bahkan kemarahan. Orang-orang Farisi tidak bisa menerima bahwa sesuatu yang begitu mendasar seperti pengampunan dosa diberikan tanpa ritual yang mereka pahami sebagai sah.

Bagi mereka, ada tatanan yang harus dijaga, aturan yang tidak boleh dilanggar. Dan di tengah ketegangan itu, Yesus seolah mengguncang fondasi cara berpikir mereka: bahwa pemulihan sejati dimulai bukan dari tubuh, tetapi dari relasi yang dipulihkan antara manusia dan kasih ilahi.

Paus Fransiskus berjalan di jalur yang sama. Ia tidak selalu memberikan jawaban yang nyaman. Dalam banyak kesempatan, ia justru mengundang kegelisahan, karena ia menggeser fokus dari penilaian ke penerimaan, dari penghukuman ke pengampunan. Ia melihat manusia bukan sebagai kumpulan kesalahan yang harus diperbaiki, tetapi sebagai pribadi yang sudah terlebih dahulu dicintai. Perspektif ini tidak hanya menantang, tetapi juga membongkar banyak struktur mental yang selama ini kita anggap benar.

Tidak mengherankan jika pendekatannya membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Ada rasa kehilangan kendali ketika batas-batas yang jelas menjadi kabur. Ada ketakutan bahwa belas kasih tanpa syarat akan membuka pintu bagi ketidakadilan. Namun di sisi lain, ada juga kelegaan yang mendalam; sebuah pengakuan diam-diam bahwa mungkin kita semua membutuhkan ruang untuk diterima tanpa harus terlebih dahulu menjadi sempurna.

Dalam keheningan refleksi, sosok Paus Fransiskus mengingatkan bahwa keberanian sejati bukanlah kemampuan untuk menghindari penderitaan, melainkan kesediaan untuk tetap mencintai di tengahnya. Ia tidak menunggu sampai dirinya bebas dari rasa sakit untuk berbagi kebaikan. Ia tidak menunda kasih sampai situasi menjadi ideal. Ia mencintai sekarang, di sini, dalam keterbatasan yang nyata.

Peringatan wafatnya bukanlah akhir, melainkan undangan. Undangan untuk bertanya pada diri sendiri: bagaimana kita memaknai penderitaan kita sendiri? Apakah kita melihatnya hanya sebagai beban yang harus ditanggung, atau sebagai bagian dari perjalanan yang bisa membawa kita lebih dekat pada sesama dan pada Tuhan?

Hal ini memberi kita cermin yang jujur: berapa sering kita menunda untuk menjadi baik karena merasa belum cukup siap? Berapa sering kita menahan diri untuk mengampuni karena merasa luka kita belum sepenuhnya sembuh? Dalam logika dunia, itu masuk akal. Tetapi dalam logika kasih yang dihidupi Paus Fransiskus, justru di tengah ketidaksempurnaan itulah kasih menemukan bentuknya yang paling otentik.

Penderitaan, dalam kerangka ini, bukanlah akhir cerita. Ia menjadi ruang perjumpaan, sebuah tempat di mana manusia belajar tentang dirinya sendiri, tentang keterbatasannya, dan tentang kebutuhan mendalam akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Fransiskus tidak menutup-nutupi bahwa perjalanan itu berat. Namun ia juga tidak membiarkan beratnya perjalanan menghapus maknanya.

Beberapa hari sebelum wafatnya, ketika merenungkan Jalan Salib pada Jumat Agung, ia kembali menegaskan bahwa penderitaan dan kematian Yesus adalah jalan istimewa untuk kembali kepada kasih yang tidak pernah memisahkan. Pernyataan ini bukan sekadar refleksi teologis, tetapi ringkasan dari seluruh hidup yang ia jalani. Ia melihat salib bukan sebagai simbol kekalahan, melainkan sebagai titik temu antara penderitaan manusia dan kasih ilahi yang tak tergoyahkan.

Dan mungkin di situlah warisan terbesarnya: bukan pada kata-kata yang ia ucapkan, tetapi pada cara ia hidup. Ia mengajarkan bahwa iman bukan hanya soal keyakinan yang dipegang, tetapi tentang bagaimana keyakinan itu diterjemahkan dalam tindakan sehari-hari. Tentang bagaimana kita memandang orang lain, terutama mereka yang paling mudah diabaikan.

Dalam dunia yang sering kali terpecah oleh perbedaan, Paus Fransiskus memilih untuk melihat kesamaan yang paling mendasar: bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, adalah objek kasih Tuhan. Ini bukan gagasan yang sederhana. Ia menuntut kita untuk melampaui prasangka, untuk menunda penilaian, dan untuk membuka hati bahkan ketika itu terasa sulit.

Justru di situlah transformasi terjadi. Ketika kita mulai melihat orang lain bukan dari apa yang mereka lakukan, tetapi dari siapa mereka di mata Tuhan, sesuatu dalam diri kita ikut berubah. Kita menjadi lebih lembut, lebih sabar, dan mungkin sedikit lebih berani untuk mencintai tanpa syarat.

Peringatan wafatnya bukanlah akhir, melainkan undangan. Undangan untuk bertanya pada diri sendiri: bagaimana kita memaknai penderitaan kita sendiri? Apakah kita melihatnya hanya sebagai beban yang harus ditanggung, atau sebagai bagian dari perjalanan yang bisa membawa kita lebih dekat pada sesama dan pada Tuhan? Apakah kita berani, seperti dia, untuk tetap memilih kasih bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan?

Tidak ada jawaban yang mudah. Tetapi mungkin, seperti Paus Fransiskus, kita bisa mulai dari hal yang sederhana: dengan tidak menutup hati. Dengan tetap percaya bahwa di balik setiap luka, ada kemungkinan untuk bertumbuh. Dan bahwa tidak ada yang benar-benar terpisah dari kasih, kecuali jika kita sendiri memilih untuk menjauh darinya.

Dalam keheningan peringatan itu, satu hal menjadi jelas: penderitaan tidak pernah menjadi kata terakhir. Selalu ada sesuatu yang lebih besar yang menunggu untuk ditemukan; sebuah kasih yang tidak terputus, yang terus mengalir, bahkan di tengah napas yang terasa berat.


* umat Gereja Santo Athanasius Agung, Paroki Karangpanas Semarang

Lainnya

Mengenal Allah Dalam Devosi

Oleh Frans  P. Liwun Bagaimana orang dapat mengenal Allah? Sedangkan Allah itu tidak bisa kita lihat dan diraba. Lalu ‘siapakah Allah itu sebenarnya?’ Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab walaupun dengan logika yang jelas, jika tanpa menyertakan iman. Oleh karena...

Bekerja Dalam Terang Jalan, Kebenaran dan Hidup

Oleh  Frans  P. Liwun Setiap tanggal 1 Mei, Pemerintah menetapkan sebagai Hari Buruh Nasional dan bertepatan dengan hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan makna kerja melalui pribadi Santo Yusuf Pekerja, sekaligus memulai berdevosi rosario pada Bulan Maria....

Per Mariam Ad Jesum: Melalui Maria Menuju Yesus

Oleh Frans P. Liwun Bulan Mei ini, Gereja Katolik mengajak kita untuk menghormati Bunda Maria melalui devosi rosario. Pada kesempatan ini umat secara pribadi atau  bersama umat lain untuk berdoa rosario. Ijinkan saya sedikit mengisahkan pengalaman waktu saya dan...

Jeritan yang Tak Dijawab: Wajah Kesepian dalam Penderitaan Yesus

Oleh : T.H. Hari Sucahyo* Seruan itu “Eloi, Eloi, lama sabachthani?” bergema melampaui waktu, melampaui teologi, melampaui batas-batas bahasa manusia yang terbatas. Ia bukan sekadar kutipan dari mazmur, bukan pula hanya penggenapan nubuat, melainkan jeritan paling...

Gembala Meninggalkan Domba: Tanggapan Bijak Seorang Umat

Ketika hari mulai berakhir dan akan berganti, matahari mulai terbenam, tersiarlah kabar yang mengejutkan. Bukan sebuah penemuan, melainkan pengakhiran. Gembala yang baik, sabar, penuntun arah dombanya yang pelan-pelan menuju kemajuan kandangnya, meninggalkan kawanan...

Sejarah Puasa Katolik: Dari “Black Fast” hingga Aturan Modern

(Gambar: Daniele Crespi (1598-1630), “The Supper of St. Charles Borromeo”) Tradisi puasa dalam Gereja Katolik memiliki perjalanan panjang yang menarik. Banyak umat mungkin tidak mengetahui bahwa sebelum abad ke-13, Gereja menjalankan pola puasa yang sangat ketat yang...

Hari Orang Sakit Sedunia 2026

Pesan Paus Leo XIV - HOSS 2026 : Klik Disini Liturgi Misa HOSS 2026 : Klik Disini Komuni Orang Sakit : Klik Disini

Doa Keluarga Tahun Pastoral 2026 Keuskupan Sufragan Bogor

Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga. Dari kisah Kitab Suci Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Maria dan Yosef memberikan keteladan ketaatan total kepada kehendak-Mu, Keluarga Zakharia dan Elisabeth memberikan keteladanan kesabaran...

Sejarah Kalender Masehi: Dari Gereja untuk Dunia

Kalender adalah sistem penyusunan yang berfungsi untuk membagi aliran waktu yang berkelanjutan menjadi periode terukur seperti hari, minggu, bulan, dan tahun, di mana penentuan periode ini umumnya didasarkan pada siklus astronomi seperti revolusi Bumi mengelilingi...

Kedatangan Relikui Santo Ignatius Loyola di Semplak

Relikui diambil dari bahasa Latin “reliquiae” yang berarti peninggalan. Jadi, relikui adalah benda-benda peninggalan dari orang yang dianggap kudus. Sejak pembaptisan tubuh kita menjadi Bait Allah, yang berarti tempat dimana Allah berdiam (bdk. 1 Korintus 3:16). Dalam...