Oleh Frans P. Liwun
Bagaimana orang dapat mengenal Allah? Sedangkan Allah itu tidak bisa kita lihat dan diraba. Lalu ‘siapakah Allah itu sebenarnya?’ Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab walaupun dengan logika yang jelas, jika tanpa menyertakan iman. Oleh karena itu kita perlu menjawab pertanyaan kedua ‘siapakah Allah itu’ dan dengan sendirinya akan terjawab pertanyaan pertama di atas melalui terang akal budi kita (baca KGK 31-36 dan 46-47).
Bila kita belajar dalam keagamaan dikatakan Allah yang kita sembah itu, dikenal sebagai Allah yang Transenden dan Allah yang Imanen. Allah yang Transenden (yang melampaui) yakni Allah melampaui alam semesta, yang tak terbatas, tak terhampiri, yang melampaui ruang-waktu dan kudus; Allah yang Imanen (dekat) yakni: terlibat aktif dalam kehidupan manusia dan ciptaan lainnya, berkarya dalam Sejarah dan masuk ke dalam keterbatasan dunia. Jika telah memahami kedua hal ini guna mencegah kita untuk memandang Allah terlalu jauh (hanya transenden) atau terlalu biasa (hanya imanen). Maka Kitab Suci menarasikannya dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu yang mengungkapkan rencana Allah yang transenden dan imanen. Keseimbangan ini membuat kita menghormati kekudusan Allah sekaligus merasakan kedekatan kasih-Nya melalui devosi. Sehingga setiap ungkapan doa selalu kita menutup dengan kalimat: Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus yang menunjukkan Allah yang Transenden dan Allah yang Imanen tersebut.
Maka pada bacaan injil hari ini (Yoh.14: 7-14) dan devosi rosario hari kedua bulan Mei, mengajak kita untuk mengenal Allah dalam devosi tersebut. Rupanya pendarasan Rosario belum menjamin pengenalan Allah yang mendalam, bila tidak disertai dengan intensitas relasi dan ketulusan hati. Hal inilah yang menjadi pertanyaan Yesus, sekaligus kritik kepada Filipus yang masih mengajukan permintaan kepada Yesus: “ ‘Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami’ (ayat 8). Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: ‘Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami’. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?’ “ (ayat 9-10a). Kita tahu Bersama bahwa Filipus sudah hidup bersama Yesus selama tiga tahun, tapi dia belum juga mengenal Yesus secara mendalam. Begitu juga orang-orang Yahudi yang telah melihat dan mendengar langsung pewartaan tentang hadirnya Mesias serta mendengarkan kesaksian para murid-Nya, namun mereka juga tidak mengenal Yesus itu siapa sebenarnya! Itulah sebabnya Yesus kerap kali mengecam kebebalan dan kekerasan hati orang-orang sebangsa-Nya itu.
Allah yang kita kenal adalah Allah yang hidup. Antara Allah dan kita ada pengenalan pribadi secara timbal balik. Allah mengenal kita secara pribadi, dan kita mengenal-Nya secara pribadi pula. Hal ini dimungkinkan oleh Yesus sebagai Wahyu Pribadi Allah (bdk Yoh 1: 1-2), yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1: 14). Oleh karena itu, melihat Yesus adalah melihat Allah yang sesungguhnya (lih Yoh 14: 10). Yesus menunjukkan Bapa kepada kita melalui pekerjaan-pekerjaan-Nya, pewartaan Kabar Sukacita, serta karya atau tindakan belas kasih seperti menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh jahat, membangkitkan orang mati dan menggandakan roti.
Sehingga setiap ungkapan doa selalu kita menutup dengan kalimat: Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus yang menunjukkan Allah yang Transenden dan Allah yang Imanen tersebut.
Tetapi melalui kebangkitan baru para murid mengenal Yesus secara pribadi. Pengenalan ini memberikan semangat yang luar biasa kepada Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kristus yang bangkit tanpa dapat dihalangi oleh siapa pun dan oleh apa pun, seperti ditulis Lukas dalam Kisah Para Rasul.
Menerima pewartaan berarti percaya. Kepercayaan itu membawa sukacita dan damai. Dan dengan demikian Allah akan dimuliakan. Sebagai penerus para Rasul, sudahkah pengenalan kita akan Kristus itu kita hayati dan resapi, sehingga setiap tindakan kita selalu termotivasi oleh Dia? Sudahkah kita buktikan secara nyata tindakan kasih Kristiani dalam masa-masa sulit, seperti misalnya ketika terjadi bencana alam atau musibah?
Namun, lewat pertanyaan Filipus yang naif itu, kita pun menjadi mantap iman kita bahwa barangsiapa telah melihat Yesus, Anak Allah, ia sama saja telah melihat Allah; bahwa dengan mengenal Yesus, kita mengenal Allah. Sebab, Yesus, Anak Allah, di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Yesus, Anak Allah. Jadi antara Allah Bapa dan Allah Putera (Yesus) dan Allah Roh Kudus tidak dapat dipisahkan. Dan Allah berkenan disebut Bapa. Artinya, Allah memiliki kedekatan yang intim dengan kita, manusia yang menjadi anak-anak-Nya; bukan Allah yang jauh dan tidak dikenal! Saya ingatkan lagi pahami penjelasan awal di atas Allah yang Transenden dan Allah yang Imanen.
Dalam perikop injil ini menunjukkan seluruh hidup Yesus menyatakan Bapa kepada setiap bangsa manusia, tidak terkecuali. Maka Paulus dan Barnabas di Antiokhia, seperti diceritakan dalam Kisah Para Rasul pada bacaan pertama (Kis.13: 44-52), dengan berani mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang iri hati, menghujat dan menolak pemberitaan mereka: “Karena itu, kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab, inilah yang diperintahkan kepada kami.” (Kis.13: 46c, 47). Seperti halnya Yesaya, merekapun telah ditentukan untuk “menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (lih Yes. 49: 6; dan Kis.13: 47).

Yesus milik semua orang yang beriman kepada Allah. Kalau pun orang tidak secara eksplisit mengungkapkan imannya kepada Yesus, mereka itu sebenarnya menjadi “satu kawanan” karena mereka melakukan pekerjaan dan perbuatan baik, yang juga dikerjakan dan diperintahkan oleh Yesus. Itulah tanda bahwa orang seperti itu berasal dari Allah. Maka secara eksplisit perkataan ‘ex ecclesia nulla salus’ (di luar Gereja tidak ada keselamatan) terus meyakinkan kita bahwa Yesus Penyelamat Manusia (Iesum Humanis Salvator). Sehingga setiap permohonan yang dipanjatkan kepada Allah demi keselamatan dan kebaikan orang lain niscaya akan dikabulkan-Nya.
Suatu pertanyaan reflektif bagi kita: Apakah kita saat ini sungguh telah mengenal Yesus dan percaya penuh kepada-Nya? Apakah kita juga bersyukur betapa Yesus “tersedia” bagi semua orang? Apakah kita juga berdoa memohonkan rahmat dan kesejahteraan bagi setiap orang tanpa pandang suku dan agama?
Pada hari ini juga Gereja memperingati Santo Atanasius (296-373). Dia seorang Uskup Agung Alexandria (Mesir) dan salah seorang dari empat Pujangga Besar Gereja Timur yang berpandangan tentang Yesus Kristus adalah:
- Keilahian Sejati Kristus, bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal, sehakikat (homoousios) dengan Bapa, dan merupakan Tuhan dan Juruselamat;
- Inkarnasi (Firman Menjadi Daging), bahwa Allah yang menjadi manusia, dimana atau mengambil rupa manusia agar manusia dapat diangkat menjadi anak-anak Allah merupakan inti dari keselamatan itu;
- Kemanusiaan Sejati, bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh menjadi manusia (bukan sekadar penampakan) untuk memulihkan kodrat manusia yang rusak akibat dosa;
- Kurban dan Kebangkitan, bahwa Yesus mati di salib untuk memikul hukuman dosa manusia dan kebangkitan-Nya mengalahkan kuasa kematian dan membawa harapan akan kehidupan kekal;
- Allah Menjadi Manusia agar Manusia Menjadi Allah, bahwa hanya Allah yang menjadi manusia yang dapat menyelamatkan manusia dan memulihkan citra Allah dalam diri manusia. Maka Allah berinkarnasi (menjadi manusia) dimungkinkan untuk berpartisipasi dalam kodrat ilahi dan memperoleh kembali citra Allah yang sejati. Beliau juga sebagai pembela utama ortodoksi melawan Arianisme.
Beberapa poin di atas menunjukkan bahwa Atanasius sangat mengenal Allah yang terbukti dari keberaniannya membela Gereja dalam melawan ajaran bidaah Arianisme, yang meragukan Kristus sebagai Tuhan. Dan kegigihannya mempertahankan ajaran Tritunggal Mahakudus dan menyerang Kaisar yang membela Arianisme. Pembelaan iman yang benar itu dilakukan dengan berkotbah di berbagai tempat dan menulis berbagai buku serta karangan yang mengajarkan iman yang benar. Maka melalui devosi Rosario ini akan mengenal Allah lebih dekat akni dalam diri kita sendiri. Semoga !!!
Selamat berdevosi. Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG). Tuhan memberkati.

Administrator Website Paroki Stiglo Semplak Bogor
