Oleh : T.H. Hari Sucahyo*
Seruan itu “Eloi, Eloi, lama sabachthani?” bergema melampaui waktu, melampaui teologi, melampaui batas-batas bahasa manusia yang terbatas. Ia bukan sekadar kutipan dari mazmur, bukan pula hanya penggenapan nubuat, melainkan jeritan paling purba dari seorang manusia yang berdiri di ambang kehancuran total: perasaan ditinggalkan.
Dalam momen itu, Yesus tidak tampil sebagai sosok ilahi yang jauh dan tak tersentuh penderitaan, melainkan sebagai manusia yang terpapar sepenuhnya pada kerapuhan eksistensi. Ia berdiri di sana, tergantung di antara langit dan bumi, di antara iman dan keputusasaan, di antara kasih yang ia wartakan dan kebencian yang kini menelannya.
Sulit membayangkan kedalaman kesepian yang dialami dalam momen tersebut. Ini bukan sekadar rasa sakit fisik akibat cambukan, mahkota duri, atau paku yang menembus daging. Ini adalah kehancuran total dari segala yang pernah ia bangun. Seluruh hidupnya, baik itu pengajaran tentang kasih, tentang kerajaan yang bukan dari dunia ini, tentang pengampunan tanpa batas, seakan runtuh dalam satu hari yang gelap.
Orang-orang yang pernah disembuhkan-Nya tidak berdiri untuk membelanya. Mereka yang pernah makan bersama-Nya kini diam atau bersembunyi. Bahkan murid-murid terdekatnya tercerai-berai oleh ketakutan. Dunia yang ia kasihi kini menjadi penonton yang dingin terhadap penderitaannya.
Di bawah bayang-bayang salib itu, ada ironi yang tak tertahankan. Ia yang mengajarkan kasih tanpa syarat kini menjadi objek kebencian kolektif. Ia yang menyentuh orang-orang yang dianggap najis kini dianggap sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Ia yang berbicara tentang kerajaan Allah kini dihukum oleh kekuasaan duniawi yang rapuh namun kejam.
Di tengah semua itu, ia berseru, bukan kepada manusia, bukan kepada para murid, bukan kepada mereka yang menyalibkannya, tetapi kepada Bapa-Nya. Seruan itu bukan sekadar pertanyaan; ia adalah ratapan, tuduhan, dan doa sekaligus.
Apa arti ditinggalkan dalam konteks ini? Apakah ini berarti bahwa Allah benar-benar menjauh? Ataukah ini adalah pengalaman subjektif yang begitu intens sehingga terasa seperti keterpisahan mutlak? Dalam dimensi manusiawinya, Yesus merasakan apa yang sering kita rasakan dalam penderitaan paling dalam: keheningan ilahi.
Ketika doa tidak dijawab, ketika harapan tidak menemukan pijakan, ketika dunia terasa runtuh tanpa makna, di situlah manusia sering bertanya, “Di mana Engkau?” Seruan Yesus menjadi cermin dari pengalaman universal ini, tetapi dengan intensitas yang tak terbayangkan.
Lebih dari itu, seruan ini membuka ruang empati yang radikal. Ia menghubungkan penderitaan Yesus dengan penderitaan manusia di segala zaman, seperti mereka yang ditindas, yang dilupakan, yang disingkirkan oleh sistem kekuasaan. Dalam konteks dunia yang terus berulang kali menyaksikan kekerasan dan ketidakadilan, seruan itu tidak pernah kehilangan relevansinya.

Ia menjadi suara bagi mereka yang tidak didengar, jeritan bagi mereka yang tidak terlihat. Dalam hal ini, interpretasi yang mengaitkan seruan tersebut dengan penderitaan anak-anak yang menjadi korban kekerasan kontemporer menemukan kekuatannya. Ada garis yang menghubungkan salib dengan setiap tempat di mana manusia mengalami penelantaran yang brutal.
Jika kita kembali pada perspektif Yesus sendiri, kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih intim: bagaimana rasanya berada di titik di mana bahkan hubungan terdalam dengan Sang Bapa, terasa retak? Seluruh hidup Yesus ditandai oleh kedekatan dengan Allah. Ia berbicara tentang Bapa dengan keintiman yang unik, memanggil-Nya dengan sebutan yang penuh kasih.
Tetapi di saat terakhir, kedekatan itu tampak menghilang dalam kabut penderitaan. Ini bukan sekadar krisis iman; ini adalah pengalaman eksistensial di mana fondasi terdalam kehidupan tampak goyah.
Bayangkan beban psikologis yang ia tanggung. Ia tidak hanya menghadapi kematian, tetapi kematian yang dipertontonkan sebagai tontonan publik, sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani melawan kekuasaan. Setiap ejekan, setiap tatapan sinis, setiap tawa yang merendahkan menambah lapisan luka yang tak terlihat.
Dalam kondisi seperti itu, manusia biasanya mencari penghiburan; sebuah suara yang menenangkan, sebuah kehadiran yang menguatkan. Tetapi bagi Yesus, bahkan sumber penghiburan tertinggi tampak diam. Keheningan itu mungkin lebih menyakitkan daripada paku di tangan dan kaki.
Justru di sinilah paradoks yang mendalam muncul. Seruan “mengapa Engkau meninggalkan Aku?” bukanlah tanda putusnya hubungan, melainkan bentuk relasi yang paling jujur. Hanya dalam hubungan yang sangat dekat seseorang berani mengungkapkan kekecewaan yang begitu dalam.
Seruan itu adalah doa yang telanjang, tanpa hiasan, tanpa upaya untuk terlihat saleh. Ia adalah kejujuran total di hadapan Allah. Dalam arti ini, Yesus tidak meninggalkan iman; ia justru mengekspresikannya dalam bentuk yang paling ekstrem.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dan sekaligus sangat ilahi dalam momen ini. Kemanusiaan Yesus mencapai puncaknya dalam kerentanan total, sementara keilahian-Nya justru tampak dalam kesetiaan untuk tetap berseru kepada Bapa, bahkan ketika merasa ditinggalkan. Ia tidak berbalik kepada kekuasaan dunia, tidak mencari jalan keluar yang instan, tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia tetap berada dalam relasi itu, meskipun relasi tersebut terasa hampa.
Dalam kesunyian yang mencekam itu, kita juga melihat cermin dari kondisi manusia modern. Banyak orang hidup dengan perasaan terputus, apakah itu dari sesama, dari diri sendiri, bahkan dari Tuhan. Dunia yang semakin kompleks sering kali membuat penderitaan terasa anonim, tidak terlihat, tidak diakui.
Dalam situasi seperti itu, seruan Yesus menjadi bahasa yang memungkinkan kita untuk mengungkapkan rasa sakit yang tidak terucapkan. Ia memberi legitimasi pada pertanyaan “mengapa?” yang sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan iman.
Lebih jauh lagi, momen ini mengajak kita untuk merenungkan kembali makna kehadiran ilahi dalam penderitaan. Mungkin kehadiran itu tidak selalu tampil dalam bentuk intervensi spektakuler. Mungkin ia hadir dalam kesediaan untuk berbagi penderitaan, untuk masuk ke dalam pengalaman manusia secara penuh.
Dalam hal ini, salib bukan hanya simbol pengorbanan, tetapi juga solidaritas yang radikal. Allah tidak berdiri di luar penderitaan, melainkan masuk ke dalamnya, merasakannya, bahkan mengalaminya sebagai penelantaran.
Kita juga tidak bisa mengabaikan dimensi sosial dan politik dari peristiwa ini. Penyaliban bukan hanya tindakan keagamaan, tetapi juga alat kekuasaan untuk mempertahankan dominasi. Yesus menjadi korban dari sistem yang takut pada perubahan, yang melihat kasih dan keadilan sebagai ancaman.
Dalam konteks ini, seruan-Nya juga bisa dibaca sebagai kritik terhadap dunia yang memungkinkan ketidakadilan semacam itu terjadi. Ia bukan hanya bertanya kepada Allah, tetapi juga secara implisit mempertanyakan kondisi dunia yang membuat penderitaan seperti itu mungkin.
Di tengah semua refleksi ini, ada satu hal yang tetap menggema: kesunyian. Kesunyian yang tidak segera diisi, yang tidak segera dijawab. Kesunyian yang memaksa kita untuk tinggal lebih lama dalam pertanyaan daripada dalam jawaban. Mungkin di situlah kekuatan terbesar dari seruan ini; ia tidak memberikan solusi yang mudah, tetapi membuka ruang untuk perenungan yang mendalam. Ia mengundang kita untuk duduk bersama penderitaan, bukan untuk segera mengatasinya, tetapi untuk memahaminya.
Seruan “Eloi, Eloi, lama sabachthani?” adalah undangan untuk melihat iman bukan sebagai kepastian yang tak tergoyahkan, tetapi sebagai perjalanan yang mencakup keraguan, rasa sakit, dan bahkan perasaan ditinggalkan. Ia menunjukkan bahwa bahkan dalam momen paling gelap, relasi dengan Allah tidak harus berhenti. Ia bisa berubah bentuk, menjadi lebih jujur, lebih telanjang, lebih manusiawi.
Dalam dunia yang terus bergulat dengan kekerasan, ketidakadilan, dan penderitaan yang tampaknya tak berujung, seruan ini tetap relevan. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap penderitaan, ada suara yang berseru, ada hati yang terluka, ada manusia yang mencari makna. Dan mungkin, dalam kesediaan untuk mendengar seruan itu, baik dalam diri kita sendiri maupun dalam diri orang lain, kita menemukan secercah harapan bahwa kesunyian bukanlah akhir dari segalanya.
Karena bahkan di tengah keheningan yang paling pekat, seruan itu tetap terdengar. Dan selama ia masih terdengar, masih ada ruang untuk harapan, untuk pemulihan, dan untuk kemungkinan bahwa penelantaran bukanlah kata terakhir.
________
* Umat Gereja Santo Athanasius Agung, Paroki Karangpanas Semarang
Pegiat di Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Kevikepan Semarang

Administrator Website Paroki Stiglo Semplak Bogor
