Ketika hari mulai berakhir dan akan berganti, matahari mulai terbenam, tersiarlah kabar yang mengejutkan. Bukan sebuah penemuan, melainkan pengakhiran. Gembala yang baik, sabar, penuntun arah dombanya yang pelan-pelan menuju kemajuan kandangnya, meninggalkan kawanan domba. Alasannya? “Menjaga persatuan kawanan domba.”
Masa pertobatan mengajak kita bersatu menjadi keluarga Katolik yang rukun. Hendaknya pertobatan ini dilakukan bukan karena paksaan, melainkan keikhlasan. Dalam peristiwa yang terjadi beberapa akhir ini, terbagilah kawanan-kawanan domba di suatu kandang. Tidak untuk bersatu, melainkan membentuk sebuah kubu. Bukan memperdamai, apalagi melerai. Sebaliknya, sang gembala terus ditekan dengan berbagai hal. Domba yang disebut suci, berubah menjadi ambisi. Persatuan hanyalah sebuah formalitas julukan di dalam kemunafikan.

Mereka yang berjubah, membutuhkan doa, ungkapan pujian, ataupun sebuah tangan yang diulur untuk mereka berjuang hadapi dunia yang kian menekan.
Terkadang, manusia sering kali merasa dirinya hebat dan melampaui langit. Namun, Tuhan dengan tegas akan merendahkan yang tinggi hatinya. Manusia kadang kala mencampuri urusan sesamanya, ibarat domba yang mencari-cari rumput tetangganya. Sadarilah, mereka yang tertahbis adalah manusia lemah yang butuh pertolongan. Mereka merelakan segalanya, meninggalkan duniawi demi gerejawi. Mereka yang berjubah, membutuhkan doa, ungkapan pujian, ataupun sebuah tangan yang diulur untuk mereka berjuang hadapi dunia yang kian menekan. Hierarki hanyalah susunan jabatan titipan, bukan sebuah kebanggaan personal. Bukan soal susah atau sulit, tetapi bertahan atas tekanan adalah ujian bagi seorang gembala.
Marilah mendoakan para gembala-gembala kita:
- PS 181: untuk para imam,
- PS 182: untuk para uskup atau paus,
- PS 184: kepada mereka yang membutuhkan panggilan.
Tim Komunikasi Sosial & Sub Seksi Audio Visual
(2022-sekarang)
Paroki Santo Ignatius Loyola – Semplak
