Di tengah dunia yang semakin bising oleh hiruk pikuk kota, manusia perlahan sering kehilangan hubungan terdalamnya dengan alam. Hutan dipandang sekadar ruang kosong, sungai dianggap hanya aliran air, dan gunung dilihat sebatas bentang geografis. Padahal bagi Santo Fransiskus Asisi, alam bukan sekadar objek yang dipijak dan dilalui, melainkan saudara yang hidup bersama manusia dalam satu rumah ciptaan Tuhan.
Semangat itulah yang coba dihidupi oleh Wilayah III Santo Fransiskus Asisi Paroki Paroki Santo Ignatius Loyola Semplak Bogor saat menggelar kegiatan tracking menuju Curug Love, Karang Tengah, Babakan Madang, Bogor, Selasa (27/5). Kegiatan ini bukan hanya perjalanan menyusuri alam terbuka, tetapi juga perjalanan batin untuk kembali merasakan keheningan, kesederhanaan, dan persaudaraan dengan semesta.
Sejak pukul 06.00 pagi, rombongan telah berkumpul di kawasan Sentul. Kabut tipis pagi masih menggantung ketika empat mobil pickup membawa peserta menyusuri jalan-jalan perkampungan menuju titik awal perjalanan. Di tengah udara dingin dan nyanyian sederhana yang menghangatkan suasana, perjalanan terasa bukan sekadar menuju air terjun, melainkan menuju ruang perjumpaan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Sesampainya di titik awal tracking, rombongan yang dipandu Pak Bram terlebih dahulu mendapat arahan untuk menjaga kelestarian alam sepanjang perjalanan dari ibu Yeni Puspita. Pesan mantan Ketua Wilayah III itu sederhana, tetapi memiliki makna mendalam bahwa manusia hadir di alam bukan sebagai penguasa, melainkan tamu yang harus menghormati rumah ciptaan Tuhan.
“Kita tetap menjaga kelestarian alam, tidak merusak, menjaga tutur kata dan sikap selama di hutan,” pesan Bu Yeni dengan tegas namun penuh kehangatan.
Kegiatan tracking ini menjadi refleksi nyata spiritualitas Santo Fransiskus Asisi yang mengajarkan hidup sederhana, menghormati alam, dan mengasihi seluruh ciptaan.
Spiritualitas ekologis seperti ini semakin relevan di tengah krisis lingkungan dan perubahan iklim yang dihadapi dunia saat ini.
Semangat Santo Fransiskus bahkan menjadi inspirasi bagi Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ yang mengajak umat manusia menjaga bumi sebagai “rumah bersama”. Merawat alam bukan lagi sekadar pilihan moral, tetapi bagian dari tanggung jawab iman.
Menjelang pukul 12.00 siang, rombongan Wilayah III meninggalkan Curug Love untuk kembali ke Sentul City. Namun perjalanan hari itu sesungguhnya tidak berhenti di sana. Ada jejak sunyi yang tertinggal di hati setiap peserta bahwa manusia akan selalu menemukan kedamaian ketika kembali bersahabat dengan alam.
Sebab di tengah hutan, gemericik sungai, dan dinginnya air pegunungan, manusia belajar satu hal sederhana: bumi bukan warisan yang bisa dihabiskan, melainkan rumah bersama yang harus dijaga dengan kasih. (gd)






Administrator Website Paroki Stiglo Semplak Bogor