Bekerja Dalam Terang Jalan, Kebenaran dan Hidup

by | May 11, 2026 | Artikel, Signal

Oleh  Frans  P. Liwun

Setiap tanggal 1 Mei, Pemerintah menetapkan sebagai Hari Buruh Nasional dan bertepatan dengan hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan makna kerja melalui pribadi Santo Yusuf Pekerja, sekaligus memulai berdevosi rosario pada Bulan Maria. Hari ini, kita diajak untuk merenung bekerja dalam terang jalan, dalam kebenaran, dalam hidup yang perlu kita kaitkan dengan perjalanan iman kita, yakni hidup kekal di sorga atau tujuan akhir hidup bersama Allah Bapa. Namun kita menelaah pernyataan ini: hidup untuk kerja atau kerja untuk hidup, kita coba merenungkan pernyataan tersebut bahwa Tuhan Allah memberikan akal untuk menemukan jalan usaha yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari bila tidak lakukan berarti kita berdosa.

Maka sehubungan dengan itu bahwa kerja akan terpenuhi tiga kebutuhan pokok: sandang, pangan dan papan; dan hari ini kita diingatkan oleh Firman Tuhan dalam Yohanes 14:1-6, Yesus memberikan janji yang menghibur sekaligus menantang: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14: 6). Di mana bekerja merupakan suatu jalan, yang membutuhkan proses walaupun banyak yang menawarkan “jalan pintas” untuk meraih kesuksesan. Tapi Yesus menegaskan bahwa satu-satunya jalan arah yang sejati adalah harus melalui diri-Nya menuju persekutuan dengan Allah Bapa.

Perikop ini sering dipakai untuk doa atau misa arwah. Mungkin bagi kita yang sedang merenungkan makna perjalanan hidup di usia yang penuh hikmat ini. Namun Yesus menggambarkan surga bukan sebagai tempat yang jauh dan asing melainkan sebagai “Rumah Bapa” dengan banyak tempat tinggal. Ini berbicara tentang relasi. Surga adalah rumah di mana kita diterima sebagai anak (bdk Mat 6: 10). Dan perlu diingat bahwa setiap hari yang kita jalani devosi rosario adalah satu langkah lebih dekat menuju rumah yang penuh kedamaian itu.

Pernyataan Yesus dalam Yohanes 14: 6 merupakan pernyataan yang sangat radikal  dan kita bukan seperti Tomas, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?“, Yesus menjawab: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Sebagai Jalan, Ia tidak hanya menunjukkan arah; tapi juga menuntun kita. Sebagai Kebenaran, Ia membebaskan kita dari kebingungan dunia. Sebagai Hidup, Ia memberikan makna pada setiap nafas kita. Maka seruan: ora et labora, bekerja dan berdoa selalu kita lakukan dalam keseharian kita. Sehingga  kita senantiasa berjalan bersama Yesus, kita sudah berada di jalan yang benar.

Senada dengan hal tersebut di atas maka bacaan pertama hari ini (Kisah Para Rasul 13:26-33) mengingatkan kita akan sejarah keselamatan (lih Mazmur 2: 7) yang telah digenapi oleh Yesus Kristus, Putera Allah.  Dalam perikop Kisah Para Rasul ini menekankan bahwa janji yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita telah dipenuhi dengan membangkitkan Yesus. Kebangkitan ini adalah dasar mengapa kita berani bekerja dan berkarya: karena hidup kita tidak berakhir pada kematian melainkan berlabuh pada janji kekekalan.

Maka bertepatan dengan hari buruh nasional serta peringatan Santo Yusuf Pekerja maka hari ini menjadi perwujudan konkret dari sabda Yesus tersebut. Yusuf tidak mencari “jalan” lain selain ketaatan. Beliau sebagai tukang kayu melakukan pekerjaannya dalam kesunyian menuntut suatu ketelitian sebab perkejaan yang ditekuni merupakan sebagai suatu bentuk ibadah. Ia membuktikan bahwa bekerja bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan materi melainkan bagian dari perjalanan menuju Bapa. Yusuf bekerja dalam “kebenaran” dan memberikan “hidup” bagi keluarganya yakni Keluarga Kudus Nazaret.

Lalu bagaimana menghubungkan dengan Bulan Maria, kita diajak meneladan Bunda Maria yang memahami pekerjaan Yusuf dengan terus berdoa melalui hari-harinya dengan bekerja—mengurus rumah tangga, mendidik Yesus, dan melayani sesama—dalam ketaatan penuh serta juga memahami makna “jalan” menuju Bapa.

Oleh karena itu, suatu ajakan bagi kita bahwa hari ini adalah: Apakah cara kita bekerja dan menjalani hidup sehari-hari sudah menjadi “jalan”, “kebenaran”, “hidup” yang membawa kita dan orang lain semakin dekat dan ada bersama dalam Bapa? Santo Yusuf dan Bunda Maria mengajarkan bahwa pekerjaan yang kudus adalah pekerjaan yang dilakukan dalam ketaatan dan kesatuan dengan kehendak Allah. Saat kita lelah dalam tugas, ingatlah bahwa kita sedang berjalan bersama Kristus menuju rumah Bapa,”datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga“(Mat 6: 10) keinginan kita agar kehendak Allah terjadi di situlah tempat bagi kita telah tersedia.

Himbauan:

  1. Bulan Mei adalah Bulan Maria dengan tema permenungan tentang Maria sebagai Bunda Allah. Umat dianjurkan untuk mendalami misteri ke-Allah-an Yesus Kristus yang bangkit serta peranan Bunda-Nya adalah juga Bunda Gereja, dalam perenungan peristiwa-peristiwa suci. Kiranya bulan devosi Rosario ini penuh berkah maka alangkah baiknya kalau dibuka dan ditutup dengan Perayaan Ekaristi sebagai puncak hidup kita untuk umat/lingkungan-lingkungan separoki.
  2. Bulan Mei adalah Bulan Liturgi Nasional (BLN), Diharapkan supaya selama bulan Mei liturgi mendapat perhatian khusus: didalami, dirancang, disiapkan, dan dilaksanakan dengan lebih baik. Untuk kegiatan pendalaman liturgi kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang disiapkan Komisi Liturgi KWI. Semoga!!!

Selamat Jumat pertama dan Adorasi serta beraktivitas di hari Jumat. Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG). Tuhan memberkati.

Lainnya

Mengenal Allah Dalam Devosi

Oleh Frans  P. Liwun Bagaimana orang dapat mengenal Allah? Sedangkan Allah itu tidak bisa kita lihat dan diraba. Lalu ‘siapakah Allah itu sebenarnya?’ Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab walaupun dengan logika yang jelas, jika tanpa menyertakan iman. Oleh karena...

Per Mariam Ad Jesum: Melalui Maria Menuju Yesus

Oleh Frans P. Liwun Bulan Mei ini, Gereja Katolik mengajak kita untuk menghormati Bunda Maria melalui devosi rosario. Pada kesempatan ini umat secara pribadi atau  bersama umat lain untuk berdoa rosario. Ijinkan saya sedikit mengisahkan pengalaman waktu saya dan...

Jeritan yang Tak Dijawab: Wajah Kesepian dalam Penderitaan Yesus

Oleh : T.H. Hari Sucahyo* Seruan itu “Eloi, Eloi, lama sabachthani?” bergema melampaui waktu, melampaui teologi, melampaui batas-batas bahasa manusia yang terbatas. Ia bukan sekadar kutipan dari mazmur, bukan pula hanya penggenapan nubuat, melainkan jeritan paling...

Gembala Meninggalkan Domba: Tanggapan Bijak Seorang Umat

Ketika hari mulai berakhir dan akan berganti, matahari mulai terbenam, tersiarlah kabar yang mengejutkan. Bukan sebuah penemuan, melainkan pengakhiran. Gembala yang baik, sabar, penuntun arah dombanya yang pelan-pelan menuju kemajuan kandangnya, meninggalkan kawanan...

Sejarah Puasa Katolik: Dari “Black Fast” hingga Aturan Modern

(Gambar: Daniele Crespi (1598-1630), “The Supper of St. Charles Borromeo”) Tradisi puasa dalam Gereja Katolik memiliki perjalanan panjang yang menarik. Banyak umat mungkin tidak mengetahui bahwa sebelum abad ke-13, Gereja menjalankan pola puasa yang sangat ketat yang...

Hari Orang Sakit Sedunia 2026

Pesan Paus Leo XIV - HOSS 2026 : Klik Disini Liturgi Misa HOSS 2026 : Klik Disini Komuni Orang Sakit : Klik Disini

Doa Keluarga Tahun Pastoral 2026 Keuskupan Sufragan Bogor

Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga. Dari kisah Kitab Suci Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Maria dan Yosef memberikan keteladan ketaatan total kepada kehendak-Mu, Keluarga Zakharia dan Elisabeth memberikan keteladanan kesabaran...

Sejarah Kalender Masehi: Dari Gereja untuk Dunia

Kalender adalah sistem penyusunan yang berfungsi untuk membagi aliran waktu yang berkelanjutan menjadi periode terukur seperti hari, minggu, bulan, dan tahun, di mana penentuan periode ini umumnya didasarkan pada siklus astronomi seperti revolusi Bumi mengelilingi...

Kedatangan Relikui Santo Ignatius Loyola di Semplak

Relikui diambil dari bahasa Latin “reliquiae” yang berarti peninggalan. Jadi, relikui adalah benda-benda peninggalan dari orang yang dianggap kudus. Sejak pembaptisan tubuh kita menjadi Bait Allah, yang berarti tempat dimana Allah berdiam (bdk. 1 Korintus 3:16). Dalam...